Siswa SMA di Bengkulu DO Buntut Hina Palestina, Kemendikbudristek dan KPAI Buka Suara
Wikimedia Commons
Nasional

MS (19) dikeluarkan dari sekolahnya usai viral konten TikTok buatannya yang menghina Palestina. Padahal menurut KPAI, MS saat ini berada di tingkat akhir dan tinggal menunggu kelulusan.

WowKeren - Nasib malang menimpa MS (19), seorang siswa SMA di Bengkulu yang terpaksa dikeluarkan dari sekolah menjelang masa kelulusannya. Pasalnya MS membuat konten di TikTok yang disebut menghina Palestina.

Perihal dikeluarkannya MS karena membuat konten menghina Palestina ini pun menjadi sorotan sejumlah pihak. Termasuk di antaranya Kementerian Pendidikan, Kebudyaaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) serta Komisi Perlindungan Anak Indoensia (KPAI).

Ketika dihubungi CNN Indonesia pada Rabu (19/5) kemarin, Pelaksana Tugas Kepala Biro Kerja sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbudristek, Hendraman, menyatakan bahwa pihaknya masih berkoordinasi terkait dikeluarkannya siswa tersebut. "Mekanisme dan wewenang pelaksanaan sekolah berada di bawah supervisi pemerintah daerah dan kami senantiasa menghormati kewenangan ini," tutur Hendraman.

Hendraman menegaskan pihaknya tidak bisa banyak mengintervensi karena keputusan berada di bawah wewenang sekolah dan pemerintah daerah. "Pada dasarnya kami terus mendorong diskusi positif dengan pemerintah daerah dan dinas terkait agar setiap permasalahan yang terjadi dapat terselesaikan dengan baik sesuai dengan aturan yang berlaku," ujarnya.


Sedangkan KPAI menyesalkan soal pengeluaran MS dari sekolah tersebut. Sebab menurutnya MS sudah tidak mungkin kembali ke sekolah karena kasus yang sangat viral, ditambah dengan yang bersangkutan kini telah berada di tingkat akhir dan tinggal menanti kelulusan.

Komisioner KPAI Retno Listyarti pun menyoroti soal dilanggarnya hak pendidikan MS. Karena itulah, Retno mendorong Dinas Pendidikan Bengkulu untuk mencari solusi lain alih-alih dikeluarkan begitu saja.

"KPAI berkonsentrasi dengan pemenuhan hak atas Pendidikan karena status MS seorang pelajar. Sanksi terhadap MS seharusnya bukan dikeluarkan, apalagi MS sudah meminta maaf, mengakui kesalahannya, dan menyesali perbuatannya," kata Retno, Kamis (20/5). "Jadi seharusnya MS diberi kesempatan memperbaiki diri, karena masa depannya masih panjang."

Menurut Retno, pihaknya kini tengah memberikan bantuan konseling karena MS mengalami masalah psikologi pasca kejadian ini. "MS juga sudah meminta maaf dan mengakui perbuatannya. Salah. Jadi sudah seharusnya yang bersangkutan patut diberi kesempatan memperbaiki diri," imbuh Retno.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait