Pfizer dan Moderna disebut meminta agar pihaknya bebas hukum jika nantinya ditemukan Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) atau efek samping pasca penggunaan vaksinnya.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 21 Mei 2021 - 09:48 WIB
WowKeren - Vaksin virus corona (COVID-19) Pfizer dan Moderna disebut telah tercatat sebagai vaksin yang akan digunakan dalam program vaksinasi nasional Indonesia. Namun demikian, rencana penggunaan kedua merek vaksin COVID-19 asal Amerika Serikat tersebut masih belum terealisasi hingga kini.
Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir pun mengungkapkan alasan di baliknya. Rupanya, Pfizer dan Moderna meminta agar pihaknya bebas hukum jika nantinya ditemukan Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) atau efek samping pasca penggunaan vaksinnya.
"Ada satu klausal indemification yang diminta Pfizer," ungkap Honesti dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI pada Kamis (20/5). "Di mana mereka dibebaskan dari semua tanggungjawab hukum seandainya ada KIPI."
Lebih lanjut, Honesti juga mengungkapkan bahwa Pfizer dan Moderna meminta kontrak jangka panjang. Sedangkan Bio Farma sendiri menegosiasikan agar ini dilakukan pada masa pandemi saja.
"Sementara kami menegosiasikan ini saat pandemi saja," lanjut Honesti. "Hal yang sama dengan Moderna, mereka minta klausul yang sama dengan Pfizer. Nah, makanya sampai hari ini kami masih berproses."
Meski demikian, Honesti memastikan hal ini tak membuat negosiasi kerja sama lantas terhenti. Menurut Honesti, pihaknya akan terus mencari solusai atas isu tersebut.
"Ini yang jadi permasalahan, sehingga kami belum bisa lakukan kontrak dengan Pfizer," jelas Honesti. "Tapi kami harap nanti akan ada solusi sekitar Juni."
Sementara itu, rencana penggunaan Vaksin COVID-19 merek Sputnik asal Rusia juga masih belum menemui perkembangan. Honesti menjelaskan bahwa komunikasi dengan pihak Sputnik dilakukan oleh perusahaan farmasi lain, bukan Bio Farma.
"Untuk vaksin Sputnik ini, oleh salah satu perusahaan farmasi Indonesia dan mereka masih berproses untuk dapat EUA (Izin penggunaan darurat), dan ini belum selesai katanya," ungkap Honesti. "Sehingga belum bisa masukkan Sputnik."
Sebagai informasi, program vaksinasi nasional pemerintah kini telah menggunakan Vaksin Sinovac asal Tiongkok dan Vaksin AstraZenca dari Covax/GAVI. Sementara itu program vaksinasi mandiri atau Vaksinasi Gotong Royong menggunakan Vaksin Sinopharm asal Tiongkok dan rencananya juga menggunakan Vaksin CanSino.
(wk/Bert)