Mantan Kepala BIN menyebut masyarakat Indonesia berlebihan dalam menanggapi konflik Palestina-Israel, termasuk generasi milenial. Generasi milenial dinilai mengalami gejala 'kerasukan roh'.
- Wahyu
- Jumat, 21 Mei 2021 - 11:38 WIB
WowKeren - Konflik antara Israel dengan Palestina yang tak kunjung reda hingga sekarang, memunculkan banyak keprihatinan dari banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Menanggapi hal tersebut, Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono mengimbau agar semua pihak tidak membawa situasi peperangan itu ke Indonesia.
"Perang di Irak, Libya, Suriah, Palestina, Israel, tolong jangan dibawa ke sini, sadarlah anak-anak bangsa Indonesia yang tercinta," tutur Hendropriyono dalam keterangan tertulis, Jumat (21/5). "Untuk menjaga dan melindungi seluruh rakyat kita agar tidak menderita seperti mereka di sana, Naudzubillahi min dzalik."
Hendropriyono juga merefeleksikan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang jatuh pada 20 Mei sebagai pengingat bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki moral penuh sopan santun dan tata krama. Ia juga menyebutkan bahwa bangsa Indonesia juga menghargai pemimpin dan orang yang lebih tua.
Akan tetapi kini semuanya telah berubah. Hendropriyono menilai perubahan tersebut dikarenakan adanya gejala "kerasukan roh" ke dalam generasi sekarang atau yang biasa disebut dengan generasi milenial.
"Setelah kita 'kemasukan setan' komunis dan 'roh' liberal, kita merasa harus sama rata dan harus bebas terlepas dari segala norma hidup berbangsa dan bernegara," terang Hendorpiyono. "Secara bertahap penghargaan kepada pemimpin masyarakat, hilang tak berbekas."
"Kita sekarang sudah terbiasa menyebut mereka dengan namanya saja, yang makin lama makin bebas untuk melecehkan, mencaci maki dan menghina-hina," lanjutnya. "Melawan dan menantang orang tua yang sejatinya tabu bagi kita, kini bahkan menjadi kebanggaan."
Lebih lanjut, Hendropriyono melihat kemunculan pemanipulasi agama yang "kerasukan roh jahat", sehingga membuat orang menjadi sulit mengendalikan diri dan membuat masyarakat menjadi emosi dan saling membenci. Menurutnya, usai perang terjadi, tidak ada hal baik yang bisa diambil, hanya ada kesedihan yang tersisa.
"Menantang perang bukan tanda seorang petarung, tapi hanya seekor kodok sombong yang menggembungkan perutnya saja, perang hanya akan menghasilkan yang kalah menjadi abu dan yang menang menjadi arang," tegas Hendropriyono. "Lalu apa yang bisa kita wariskan kepada anak-anak kita? hanya suatu hari depan yang gelap gulita?"
Hendropriyono tidak ingin masyarakat Indonesia, khususnya generasi milenial tercebur mendukung peperangan. Sebelumnya, ia pun telah mengatakan bahwa konflik Palestina-Israel bukan urusan Indonesia.
(wk/wahy)