Respons Pemerintah Indonesia Terhadap COVID-19 Varian Delta yang Berbahaya Dikritik
Pexels/CDC
Nasional
Mutasi Corona Masuk Indonesia

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito juga telah mengakui bahaya Varian Delta yang kini sudah banyak ditemukan di Indonesia.

WowKeren - Varian virus corona (COVID-19) asal India atau yang disebut sebagai Varian Delta kini mulai merebak di sejumlah wilayah di Indonesia. Padahal, Varian Delta dinilai lebih agresif dalam menularkan virusnya dari satu orang ke orang lain.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito juga telah mengakui bahaya Varian Delta tersebut. "Kini, Varian Delta telah banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Virus-virus itu, seperti hasil yang didapat dari penelitian ilmiah di berbagai negara, tentunya itu virus yang berbahaya," tutur Wiku dalam konferensi pers pada Kamis (17/6).

Meski demikian, Wiku menyebut bahwa penelitian lebih lanjut masih harus dilakukan terkait virus tersebut. Hal ini dilakukan demi memastikan apakah varian virus yang dianggap berbahaya di satu negara juga berbahaya di negara lain.

Oleh sebab itu, Wiku meminta masyarakat untuk terus disiplin menerapkan protokol kesehatan. Apabil masyarakat taat menerapkan protokol kesehatan, maka virus varian baru dinilai juga dapat dihindari.


"Langkah-langkah tersebut, efektif mencegah penularan virus corona varian apa pun. Yang utama kita lakukan adalah menjalankan protokol kesehatan, menjaga jarak, mencuci tangan, dan menggunakan masker," terang Wiku. "Karena dengan 3M itu, apa pun variannya pasti tidak akan meningkatkan penularan."

Di sisi lain, respons pemerintah terkait penyebaran Varian Delta disorot oleh epidemiolog Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono. Menurut Pandu, pemerintah Indonesia bersikap "tenang-tenang saja" terkait penyebaran Varian Delta yang telah dikategorikan sebagai Variant of Concern oleh WHO. Ia lantas membandingkannya dengan respons pemerintah negara lain.

"Kita bandingkan dengan pemimpin negara lain, misalnya PM Inggris Boris Johnson. Begitu tahu ada yang terinfeksi Delta variant di Inggris, yang tadinya mau dilonggarkan malah diperpanjang sebulan supaya varian itu tidak banyak menyebar ke penduduk," papar Pandu kepada BBC Indonesia, Kamis (17/6). "Kalau menyebar ke penduduk begitu dilonggarkan, nanti tidak terkendali lagi karena sudah diketahui bahwa ini sangat menular dan menyerang usia muda. Jadi itulah respons antisipasi yang dilakukan banyak negara."

Lebih lanjut, Pandu menilai bahwa varian COVID-19 lokal juga sudah ada di Indonesia bahkan sejak tahun lalu. Pandu menegaskan bahwa mutasi virus tidak hanya terjadi di luar negeri, namun juga di dalam negeri.

"Kalau virus yang bermutasi, harusnya sudah diantisipasi dari tahun lalu," kata Pandu "Virus ini memang virus yang terus bermutasi, sampai kapanpun akan bermutasi."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts