Geram Lonjakan COVID-19 Terus Terjadi, Epidemiolog Sebut Indonesia Alami Herd Stupidity
pixabay.com
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Lonjakan COVID-19 di Indonesia hingga saat ini masih terus terjadi. Menanggapi hal tersebut, Epidemiolog menyebut bahwa Indonesia telah mengalami herd stupidity sejak lama.

WowKeren - Pandemi COVID-19 hingga saat ini masih menyelimuti Indonesia. Pemerintah Indonesia juga tengah berupaya keras untuk bisa segera menangani lonjakan kasus COVID-19 yang saat ini terjadi di sejumlah daerah.

Banyak cara telah dilakukan pemerintah untuk bisa segera mengakhiri pandemi COVID-19 seperti vaksinasi, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), dan kebijakan lainnya. Di tengah terjadinya lonjakan COVID-19, Pandu Riono selaku Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI menyebut bahwa Indonesia mengalami kondisi herd stupidity atau kebodohan komunal sejak lama.

Menurut Pandu terjadinya lonjakan COVID-19 di Indonesia itu dipicu oleh tindakan dari pemerintah dan masyarakatnya sendiri. "Indonesia sudah lama dalam kondisi 'herd stupidity'," tulis Pandu dalam Twitter pribadinya, @drpriono1, Minggu (20/6).

"Perilaku manusianya yang mendorong replikasi virus, memperbanyak diri dan berubah menjadi lebih menular," terangnya. "Manusia yang mendapat amanah, jadi pejabat dan manusia-manusia lain yang tidak berperilaku 5M dan enggan divaksinasi."


Pandu menjelaskan salah satu kebodohan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia adalah saat ada larangan untuk mudik 2021, tetapi masih banyak dari mereka yang melanggar aturan tersebut. Di lain sisi, pemerintah tidak membuat kebijakan ketat atas peraturan tersebut. Masih banyak masyarakat yang bisa mudik padahal saat itu juga diberlakukan penyekatan.

Pandu pun menganalogikan kondisi pandemi COVID-19 di Indonesia saat ini seperti rumah bocor setiap hujan turun. Dengan kondisi rumah bocor, maka seharusnya membenahi atap agar air hujan tidak masuk ke dalam rumah dan banjir.

Kasus COVID-19 diibaratkan sebuah air, nah kalau atap bocor, ketika hujan datang, maka akan masuk ke rumah. Dengan begitu, atapnya harus segera diperbaiki bukan hanya memberi ember saat hujan turun.

Menurut Pandu, perbaikan atap dalam mengatasi lonjakan COVID-19 adalah dengan memberlakukan pengetatan seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Seperti yang diketahui, penerapan PSBB terbukti mampu menangani dan menurunkan angka kasus COVID-19.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts