Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin turut angkat bicara terkait kabar pencalonan Jubir Presiden Jokowi, Fadjroel Rachman, sebagai Dubes RI untuk Kazakhstan.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 30 Juni 2021 - 09:49 WIB
WowKeren - Fadjroel Rachman yang merupakan Juru Bicara Presiden Joko Widodo dikabarkan menjadi Calon Duta Besar RI untuk Kazakhstan. Lantas, apakah posisi Jubir Jokowi akan kosong jika Fadjroel benar-benar menjadi Dubes RI untuk Kazakhstan?
Terkait hal ini, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin pun buka suara. Ngabalin menyatakan bahwa kemungkinan Jokowi menunjuk Jubir baru adalah kewenangan sang Presiden sendiri.
"Itu adalah hak prerogatif Presiden dan tidak boleh ada seorang pun bisa masuk," tutur Ngabalin di kanal YouTube Serbet Ngabalin, Senin (29/6). "Apakah Presiden akan menunjuk lagi Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi? Lagi-lagi itu adalah kewenangan dan hak prerogatif Presiden Joko Widodo."
Lebih lanjut, Ngabalin menyatakan bahwa pihaknya di KSP akan tetap bekerja seperti biasa. Yakni mendukung semua kebijakan Jokowi atas perintah Kepala Staf Presiden Moeldoko.
"Dan selama ini juga tidak ada kesulitan bukan?" kata Ngabalin. "Kalau untuk menelepon, ditelepon teman-teman wartawan dan semua informasi dari Istana bisa kami sampaikan dengan baik, kemudian ruang publik bisa terisi."
Sementara itu, kabar Fadjroel dicalonkan sebagai Dubes RI untuk Kazakhstan terungkap dari dokumen yang bersumber dari Surat Presiden RI Nomor R-25/Pres/06/2021 tertanggal 4 Juni 2021. Dalam dokumen tersebut terdapat 33 nama calon Dubes RI untuk negara sahabat dan organisasi internasional, salah satunya Fadjroel.
Di sisi lain, jabatan Dubes tersebut rupanya dinilai dapat merugikan bagi Fadjroel sendiri. "Karena dirinya terlempar dari lingkaran Istana," papar Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin kepada SINDOnews, Selasa (29/6).
Ujang menyebutkan apabila Fadjroel benar menjadi Dubes RI dan ditugaskan ke Kazakhstan, maka ia sama saja dengan "terlempar" dari sisi Presiden. Menurutnya, Fadjroel sebagai Jubir Presiden seharusnya dapat mendampingi Jokowi hingga akhir masa jabatan.
"Di mana-mana orang itu ingin dekat dengan Presiden. Ingin ada di ring-1 Presiden. Ini malah terlempar dan terbuang. Ini mungkin baru pertama kali, seorang Presiden membuang jubirnya di tengah jalan," tuturnya. "Ini tentu ada persoalan antara Istana dengan Fadjroel Rachman. Sehingga dia dibuang jadi Dubes."
(wk/Bert)