Saat ini, banyak fasilitas kesehatan yang mengalami kekurangan pasokan oksigen, imbas dari lonjakan COVID-19. Terkait hal itu, IDI meminta agar masyarakat tidak membeli oksigen secara mandiri.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 06 Juli 2021 - 08:50 WIB
WowKeren - Lonjakan COVID-19 yang terjadi belakangan ini, membuat pasokan oksigen di sejumlah rumah sakit di Indonesia mengalami kekurangan. Bahkan kini tampak semakin krisis, khususnya di fasilitas kesehatan yang merawat pasien COVID-19.
Terkait dengan hal tersebut, Ketua Pelaksana Harian Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mahesa Paranadipa Maikel mengungkapkan bahwa kekurangan pasokan oksigen ini tidak hanya terjadi beberapa pekan belakangan, melainkan sudah sejak satu bulan yang lalu. Hal ini terjadi di Kudus, Jawa Tengah, saat mengalami lonjakan COVID-19 yang signifikan.
Sementara untuk Jabodetabek, sudah hampir dua minggu ini mengalami krisis pasokan oksigen. "Daerah lain seperti Bandung, sudah melaporkan kondisi krisis oksigen," ungkap Mahesa saat dihubungi Tempo, Senin (5/7).
Dengan kondisi yang seperti itu, Mahesa menyebut lebih parah dibandingkan dengan keadaan saat gelombang pertama COVID-19 di bulan Desember 2020 hingga Januari 2021. Saat ini, sudah hampir 90 persen pasien COVID-19 di ruang isolasi yang membutuhkan oksigen, dan menjadikan kebutuhan meningkat 2-3 kali lipat.
Di sisi lain, Adib Khumaidi selaku Ketua Tim Mitigasi Dokter IDI meminta masyarakat agar tidak panik dan secara sembarangan membeli sendiri oksigen. Hal ini dikarenakan penggunaan oksigen bagi orang sakit memiliki prosedur tersendiri. "Oksigen ini bukan barang yang bisa dipakai sembarangan, ada prosedur pemakaiannya," terang Adib saat dihubungi Tempo, Senin (5/7).
Lebih lanjut, Adib memaparkan dua cara penggunaan tabung oksigen yakni lewat hidung (nasal kanul) dan lewat sungkup. Sedangkan untuk menentukan cara mana yang tepat bagi seorang pasien, hanya bisa ditemukan, ditentukan, dan dilakukan tim medis.
Kemudian, jika penggunaan oksigen tidak sesuai, tidak dipantau, dan tidak diawasi oleh tim medis, itu bisa berakibat fatal. Adib menegaskan bahwa saat ini rumah sakit lebih membutuhkan pasokan oksigen, lalu untuk pasien COVID-19 dengan gejala ringan atau tak bergejala masih bisa isolasi mandiri tanpa memerlukan tabung oksigen.
"Tapi tetap isolasi mandiri yang terpantau kondisinya, kapan dia bisa di rumah, kapan dia harus dibawa ke rumah sakit," tandas Adib. "Kalau sudah gejala sedang, harus dibawa ke rumah sakit sebenarnya, karena dia membutuhkan monitoring saturasi oksigen."
(wk/tiar)