Belakangan, dua anak di Mandailing Natal (Madina), secara misterius dan tiba-tiba mengalami penyakit kulit. Hal ini diduga disebabkan oleh adanya limbah merkuri.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 06 Juli 2021 - 10:50 WIB
WowKeren - Beberapa waktu belakangan ini, dua anak asal Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut), mengalami penyakit kulit misterius yang membuatnya tampak seperti terbakar hingga menyebabkan jari putus. Hal ini diduga penyakit kulit misterius tersebut diduga akibat dari paparan limbah merkuri.
Kabar tak mengenakkan ini pun sampai pada telinga Gubernur Sumatera Utara yakni Edy Rahmayadi. Usai menerima kabar tersebut, pihaknya langsung mengunjungi kediaman dua anak itu yang diketahui bernama Haikal berusia 9 tahun dan Zakira berusia 3 tahun.
"Jadi menurut orangtuanya, sejak lahir itu sudah ada seperti luka bakar dan melepuh bercak,"terang Edy, Selasa (6/7). "Akhirnya hingga sampai saat ini, luka itu menyebar hingga membuat jarinya putus."
Lebih lanjut, Edy menerangkan bahwa kedua bocah itu sudah berulang kali dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan. Selain itu, mereka juga dibawa ke pengobatan tradisional. Namun dari berbagai macam pengobatan yang ditempuhnya itu belum membuahkan hasil.
Menanggapi hal tersebut, Edy menuturkan bakal membawa mereka dan membiayai pengobatan seluruhnya hingga sembuh. Saat ini, kedua anak tersebut, dibawa ke Rumah Sakit Haji, Medan. "Kedua anak ini akan ditangani sampai sembuh, karena mereka adalah masyarakat Sumut dan saya mohon maaf karena baru mengetahui kabar ini," terang Edy.
Edy menduga kedua anak tersebut terkena dampak dari limbah merkuri tambang emas ilegal. Hal ini dilihat berdasarkan dari posisi desa tempat tinggalnya. Meski demikian, hal tersebut masih merupakan dugaan sementara. Hingga saat ini dugaan tersebut masih dalam pemeriksaan dokter.
"Awal mulanya, seperti biasa, sempurna, tetapi lambat laun seperti itu, kemungkinan ada sesuatu," lanjutnya. "Kalau genetik, orangtuanya sempurna, nggak ada apa-apa."
Sementara untuk kegiatan pertambangan emas ilegal di Madina itu, Edy menyampaikan bahwa saat ini pihaknya masih terus melakukan negoisasi kepada masyarakat. Kemudian Edy meminta pertambangan tersebut ditutup dan diubah menjadi petani.
"Itu sebenarnya kita sedang dalam komunikasi dengan rakyat yang melakukan penambangan, kita alihkan pendapatan rakyat yang menambang," tandas Edy. "Kita hentikan penambangan, yang mau bertani, kita siapkan pertanian, yang mau beternak kita siapkan peternakan."
(wk/tiar)