Hal ini berawal dari Komisaris Utama PT Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang mengaku bahwa dirinya mendapat kartu kredit dengan limit Rp 30 miliar dari perusahaan pelat merah tersebut.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 06 Juli 2021 - 16:19 WIB
WowKeren - Persoalan kartu kredit petinggi PT Pertamina (Persero) sempat menjadi sorotan publik beberapa waktu lalu. Hal ini berawal dari Komisaris Utama PT Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang mengaku bahwa dirinya mendapat kartu kredit dengan limit Rp 30 miliar dari perusahaan pelat merah tersebut.
Setelah itu, dokumen kartu kredit Pertamina dengan limit mencapai Rp 420 miliar diduga bocor ke publik. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pun akhirnya buka suara mengenai polemik kartu kredit ini.
"Saya rasa begini, kan tugasnya seorang komisaris, mengawasi kinerja direksi, saya rasa itu hal-hal yang sah saja," tutur Erick di Jakarta, Senin (5/7). "Dan ini bagian dari check and balance."
Erick sendiri yakin bahwa kinerja direksi memiliki profesionalisme yang tinggi. Menurutnya, kartu kredit perusahaan tersebut bukan digunakan untuk kepentingan pribadi. Erick sendiri mengakui bahwa penggunaan kartu kredit menjadi semakin penting di era non-tunai seperti sekarang.
"Kadang-kadang kita memerlukan itu apalagi eranya ini kan era cashless, sekarang kan mohon maaf, saya aja nggak bawa dompet nih, enggak bawa uang cash, era cashless," paparnya. "Jadi kartu-kartu itu kadang-kadang dibutuhkan untuk operasional bukan buat pribadi. Tapi, apakah komisaris harus mengecek ya itu wajar saja, nanti kan masing- masing juga dilakukan."
Lebih lanjut, Kementerian BUMN sendiri disebutnya akan menggelar pelatihan untuk para direksi dan komisaris terkait banyaknya perubahan di masa pandemi COVID-19 dan pasca pandemi ke depannya. Nantinya, pelatihan tersebut akan menjadi tempat dimana komisaris dan direksi mempelajari segala perubahan yang terjadi.
"Jadi yang dulu tidak mengenal online sekarang ada apotek seperti ini, tapi juga harus bisa melayani online, atau misalnya di bisnis model lainnya itu terjadi perubahan, yang dulu bensin laku, sekarang listrik juga laku. Listriknya buat apa, bukan buat nerangin bohlam, buat nerangin rumah, dipakai mobil. Nah bayangin karena itu berubah," pungkasnya. "Jadi kita sudah membentuk forum itu untuk tadi, sama-sama saling belajar check and balance tapi yang paling penting pasca COVID ini seperti apa dunia, kita lakukan itu."
(wk/Bert)