Eks Direktur WHO SEA Bongkar Jurus India Kilat Turunkan COVID-19, Indonesia Bisa Tiru?
Nasional

Prof Tjandra Yoga Aditama yang juga pakar kesehatan dari UI membeberkan langkah-langkah strategis India dalam mengendalikan wabah COVID-19 yang sempat menerjang bak tsunami.

WowKeren - Prof Tjandra Yoga Aditama yang merupakan pakar ilmu kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia membeberkan strategi India dalam mengendalikan wabah COVID-19. Sebab seperti diketahui beberapa waktu lalu jumlah kasus positif di Negeri Bollywood berkembang begitu pesat bahkan mencapai ratusan ribu hanya dalam hitungan 24 jam.

"Tsunami" COVID-19 ini begitu mencekam, namun nyatanya India berhasil mengatasinya dalam waktu relatif singkat. "Angka kasus di India naik hingga 40 kali lipat, tapi di sisi lain dia turun dengan sangat cepat," ujar Tjandra dalam sebuah agenda diskusi daring di Jakarta, Kamis (8/7).

Tjandra yang merupakan mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara periode 2018-2020 itu mengungkap India pernah mencapai tingkat kepositifan alias positivity rate sampai 22,7 persen. Namun hanya dalam hitungan 2-3 bulan, angka kasus baru sudah jauh berkurang daripada bulan Mei ketika "tsunami" COVID-19 pertama menerjang.

"Pada 8 Mei 2021, ada 400 ribu kasus. Kemarin angkanya turun sepuluh kali lipat dalam waktu dua bulan," tutur Tjandra. "Pada 10 Juni 2021, angkanya 100 ribu kasus dan sekarang sudah di bawah 40 ribu kasus."

Tentu fakta ini begitu menggiurkan dan diharapkan bisa segera dirasakan Indonesia, bukan? Lantas sebenarnya seperti apa jurus India agar wabah infeksi virus Corona yang sedemikian parah bisa segera dikendalikan seperti itu?


Menurut Tjandra, langkah pertama yang dilakukan adalah dengan langsung mengetatkan pembatasan sosial. Ada yang menerapkan jam malam, namun ada pula yang sampai memberlakukan lockdown, baik sebagian maupun penuh.

"India menginstruksikan negara bagian melakukan lockdown penuh atau pemberlakuan jam malam," bebernya. Tjandra juga kemudian menyoroti pola pergerakan penduduk semasa pembatasan aktivitas tersebut, yang menurutnya juga terkait dengan penurunan jumlah kasus harian.

India, disebutkan Tjandra, berani benar-benar melarang segala bentuk aktivitas termasuk yang berpotensi mencederai perekonomian. Lalu ketika situasi mulai terkendali, India perlahan mencabut pembatasan secara bertahap, diawali dari masyarakat pekerja harian yang sangat terdampak.

"New Delhi misalnya, mulai menerapkan lockdown total pada 17 April 2021. Dan ketika kasus mulai terkendali, maka pada 31 Mei 2021 mulai dilakukan pelonggaran dalam bentuk 'unlocking process' secara bertahap," ungkap Tjandra.

"Pembukaan lockdown yang dimulai (dari) buruh harian, buruh pabrik, dan pekerja bangunan. Supaya orang yang kerja harian ada pemasukan," sambungnya. Dan sepekan setelahnya, baru India perlahan membuka kembali aktivitas perniagaan di berbagai pertokoan.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait