Wilayah Non-PPKM Darurat Jangan Terlena! COVID-19 Juga Meningkat di Luar Jawa-Bali
Flickr/unwomenasiapacific
Nasional

Juru Bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito, mengungkapkan bahwa dari total 34 provinsi, 31 di antaranya mengalami kenaikan persentase kasus aktif COVID-19.

WowKeren - Pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di wilayah Jawa-Bali untuk menekan penularan COVID-19. Meski demikian, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 mengingatkan bahwa kenaikan kasus juga terjadi di luar wilayah Jawa dan Bali.

"Jangan merasa terlena karena provinsinya tidak termasuk dalam PPKM Darurat, karena nyatanya seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa kenaikan kasus juga terjadi secara signifikan di luar Jawa-Bali," tutur Juru Bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito, dalam konferensi pers yang tayang di kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Kamis (8/7).

Wiku mengungkapkan bahwa dari total 34 provinsi, 31 di antaranya mengalami kenaikan persentase kasus aktif COVID-19. Selain itu, sembilan provinsi juga mengalami kenaikan persentase kematian akibat COVID-19.

"Tentunya banyaknya provinsi yang mengalami perkembangan ke arah yang kurang baik ini perlu dijadikan refleksi oleh pemerintah daerah masing-masing," papar Wiku. "Kenaikan persen kematian menunjukkan dalam satu minggu terakhir, kenaikan kematian yang terjadi lebih signifikan dibandingkan kenaikan kesembuhan."


Adapun sembilan provinsi dengan persen kematian COVID-19 yang meningkat antara lain Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Gorontalo, DIY, Bengkulu, Kepulauan Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat. "Kematian yang meningkat ini dapat terjadi akibat keterlambatan penanganan atau perburukan yang tidak dipantau saat isolasi mandiri," ungkap Wiku.

Oleh sebab itu, Wiku meminta seluruh pemerintah daerah untuk terus meningkatkan pemantauan pada pasien isolasi mandiri. Dengan demikian, mereka dapat dengan cepat mendapat penanganan apabila kondisi memburuk.

"Saya juga akan menyampaikan beberapa kabar baik pada minggu ini. Testing atau jumlah pemeriksaan per 1.000 penduduk per minggu di Indonesia mencapai 252,78 persen dari standar WHO," tuturnya. "Dengan PCR 380.480 atau 52 persen, antigen 363.399 atau 48 persen. Angka ini menunjukkan bahwa upaya testing terus mengalami peningkatan."

Di sisi lain, pasien COVID-19 yang meninggal dunia kala menjalani isoman di rumah belakangan memang mengalami peningkatan. Data LaporCOVID-19 sejak Juni 2021 menyatakan ada 300 pasien virus corona yang meninggal saat menjalani isoman.

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp,P(K) menilai masyarakat banyak yang menyepelekan gejala-gejala ringan seperti sakit kepala dan diare. Mereka menganggap kondisi tersebut masih layak menjalani isoman, padahal bisa jadi hasil konsultasi dengan dokter menyatakan hal berbeda. Alhasil karena masyarakat gegabah menentukan sendiri derajat keparahannya, banyak pasien isoman yang akhirnya tidak mendapat pengobatan dan perawatan yang memadai dari tim medis.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait