Satgas Buka Penyebab Kasus COVID-19 Harian Terus Menurun Saat PPKM, Malah Pertanda Buruk?
Flickr/navymedicine
Nasional

Bila sebelumnya kasus harian COVID-19 Indonesia bisa mencapai lebih dari 50 ribu, selama 4 hari belakangan terus menurun, bahkan pada Selasa (20/7) kemarin 'hanya' 38.325.

WowKeren - Kasus COVID-19 harian Indonesia terus bergerak liar bahkan pernah mencapai rekor 50 ribu lebih. Namun selama 4 hari belakangan angkanya terus menurun, bahkan pada Selasa (20/7) kemarin "hanya" 38.325 kasus baru yang dilaporkan.

Namun ada satu hal yang mesti dipahami di balik penurunan angka kasus positif ini, yakni jumlah testing yang juga ikut menurun. Misal pada Selasa kemarin saja hanya ada 160.686 spesimen yang diperiksa, sementara pekan sebelumnya bisa mencapai lebih dari 250 ribu spesimen tes per hari.

Fakta ini pun ditanggapi terbuka oleh Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito. Wiku mengungkap beberapa potensi penyebab turunnya jumlah spesimen yang diperiksa dalam sehari, seperti penjelasan berikut.

Yang pertama adalah karena kapasitas testing yang menurun di setiap akhir pekan karena beberapa laboratorium yang libur. Kemudian yang kedua adalah penundaan pengiriman data ke sistem data pemerintah. "Ada delay input yang berasal dari lab ke dalam sistem data," terang Wiku, Selasa (20/7).


Walau demikian, Wiku memastikan bahwa pemerintah terus berusaha meningkatkan kapasitas testing dan tracing tersebut. Caranya adalah dengan berkoordinasi bersama pemerintah daerah untuk menerapak 3T yang lebih baik.

"Juga memfasilitas pemda untuk mencapai targetnya masing-masing. Sesuai yang telah ditetapkan dalam instruksi Mendagri," imbuh Wiku, dikutip pada Rabu (21/7).

Namun Wiku juga meminta publik untuk tidak lengah karena nyatanya saat ini penularan virus Corona masih tinggi di masyarakat, terutama dalam bentuk klaster keluarga. Hal ini menunjukkan protokol kesehatan ketat belum bisa dilakukan dengan baik di kelompok terkecil, sehingga ketika ada satu anggota keluarga yang positif COVID-19 akan dengan mudah menular ke anggota lain.

"Tingginya laju penularan di masyarakat akibat menjamurnya klaster keluarga," jelas Wiku, Sabtu (17/7) malam. "Ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa di tempat yang dianggap paling aman pun ternyata penularan masih tetap ada."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait