1.214 Pasien COVID-19 di Jakarta Meninggal Dunia Kala Isoman, Dinkes DKI Ungkap Pemicunya
Flickr/hospitalclinic
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Adapun 1.214 kasus kematian pasien COVID-19 kala isolasi mandiri di DKI Jakarta tersebut didasarkan pada temuan koalisi warga LaporCovid19 hingga 22 Juli 2021.

WowKeren - Koalisi warga LaporCovid19 mengungkapkan bahwa hingga 22 Juli 2021, ada 1.214 orang yang meninggal dunia karena COVID-19 kala menjalani isolasi mandiri di rumah. Menurut LaporCovid-19, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan kematian COVID-19 isoman tertinggi di Indonesia.

"Akhirnya provinsi terbanyak setelah kami temukan yaitu DKI Jakarta, bukan Jawa Barat lagi, yaitu sebanyak 1.214," papar data analyst LaporCovid19, Said Fariz Hibban, dalam konferensi pers virtual.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta lantas angkat bicara mengenai temuan LaporCovid19 ini. Kepala Dinkes DKI, Widyastuti, mengungkapkan sejumlah penyebab kematian kala isoman di Ibu Kota cukup tinggi.

"Jadi penyebabnya jelas-jelas ada infeksi COVID," tutur Widyastuti kepada CNN Indonesia, Jumat (23/7). "Kedua, saat ini dengan adanya varian baru memang on set, mulai gejala sampai perburukan lebih cepat dibandingkan sebelum-sebelumnya."

Selain itu, penyakit bawaan alias komorbid yang dimiliki warga juga menjadi salah satu pemicu. Pemprov DKI sendiri disebutnya telah memberikan paket obat sejak awal, termasuk vitamin dan antivirus.


"Untuk mengatasi, menurunkan angka kematian tadi, kita berikan tadi paket obat," ungkap Widyastuti. "Tidak hanya vitamin, tapi dari awal diintervensi dengan pemberian antivirus dalam paket obat tersebut."

Meski begitu, Widyastuti menekankan bahwa penyebab tingginya kematian kala isoman juga masih memerlukan pendalaman yang lebih komprehensif. Oleh sebab itu, Widyastuti mengaku akan melakukan studi kasus lebih lanjut terkait temuan tersebut.

Pemprov DKI sendiri disebut akan memperkuat pengawasan terhadap pasien COVID-19 yang menjalani isolasi. Baik yang menjalani isoman di rumah maupun yang diisolasi di rumah sakit. Pengawasan ini dilakukan dengan menyiapkan tim di tingkat Puskesmas.

"Untuk isolasi mandiri, kita siapkan ada tim di tingkat puskesmas yang memberikan layanan langsung kepada warga bersama satgas tingkat RT/RW," paparnya.

Kementerian Kesehatan juga akan turut membantu pengawasan warga isoman dengan skema telemedisin. Meski demikian, skema tersebut membutuhkan tenaga kesehatan di lapangan.

"Karena tidak semua warga DKI bisa mengakses melalui telemedisin dengan heterogennya warga. Memang ada yang biasa berkomunikasi menggunakan digital, tapi juga ada yang belum terlalu memanfaatkan skema digital tadi," pungkasnya. "Sehingga pengawasan langsung oleh teman-teman Puskesmas masih kita perlukan."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts