Mahasiswi Aceh Kejang Sampai Kaki Tak Bisa Gerak Usai Divaksin, IDI Bongkar Penyebabnya
Twitter/KemenkesRI
Nasional
Vaksin COVID-19

IDI kembali menekankan gejala klinis yang dialami belum tentu merupakan efek vaksinasi. Seperti kejadian berikut, yang diduga IDI adalah reaksi psikosomatik belaka, apa itu?

WowKeren - Pakar kesehatan mewanti-wanti masyarakat untuk selalu melaporkan bila ada gejala klinis yang dialami usai menerima suntikan vaksin COVID-19. Salah satunya seperti yang dialami seorang mahasiswi asal Aceh Barat bernama Amelia Wulandari (22).

Amelia, mengutip Kumparan, dilaporkan mengalami kejang-kejang serta lemas kaki dan tangan, bahkan sampai tak bisa digerakkan, setelah menerima vaksin. Fenomena ini pun turut disoroti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh yang mengaku sudah berkomunikasi dengan dokter yang merawat Amelia di RSUD Cut Nyak Dien Meulaboh.

Beruntungnya, sang mahasiswi kini kondisinya sudah berangsur membaik. "Dalam dua hari terakhir ini, tren pemulihan Amelia semakin membaik," ujar Ketua IDI Aceh, dr Safrizal Rahman, Selasa (3/8).

Namun Safrizal juga menduga bahwa Amelia bukan menderita berbagai gejala klinis tersebut akibat vaksinasi COVID-19. Malah menurut Safrizal, Amelia mengalami semua fenomena tersebut karena faktor psikosomatik alias ketakutan yang berlebihan, sehingga malah memicu dampak pada kesehatannya.

Ternyata saat skrining, Amelia sempat mengaku memiliki sakit asam lambung dan riwayat tifus. "(Sebenarnya) semua keluhan itu, bukan termasuk kontra indikasi atau halangan untuk melakukan vaksin sehingga dilakukanlah vaksin," tegas Safrizal, dikutip pada Rabu (4/8).


Namun tampaknya sang mahasiswi terlalu khawatir sehingg asam lambungnya malah naik. Amelia lantas mengeluhkan ada nyeri di ulu hati serta kakinya menjadi lemah sehingga akhirnya dibawa ke rumah sakit.

"Namun setelah diamati tanda-tanda vitalnya secara ilmu kedokteran seperti tekanan darah, nadi, dan pernafasan itu normal-normal saja. Ketika diajak bicara juga normal," sambung Safrizal yang juga merupakan Tim Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Universitas Syiah Kuala (USK) tersebut.

Amelia pun mendapat terapi secara medis dan bahkan telah menunjukkan peningkatan untuk pemulihan kakinya. "Kontrol terbaru kita tadi, insya Allah besok sudah mulai dilatih berdiri untuk berjalan lagi," jelas Safrizal.

Apa yang dialami Amelia, menurut Safrizal, tidak bisa langsung dikaitkan dengan efek vaksinasi. Bahkan reaksi psikosomatik seperti ini sudah beberapa kali dilaporkan.

"Bahkan ada yang mengeluhkan lumpuh dan sebagainya, tapi tidak ada yang fatal hanya perlu dirawat," pungkas Safrizal menegaskan. "Artinya, ini hanya perlu kesiapan mental kita ketika divaksin, karena keluhan yang timbul berkaitan dengan psikosomatik saja."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts