Perkembangan transformasi digital dinilai bisa membantu memulihkan keadaan Indonesia pascapandemi COVID-19. MUI pun meluncurkan program yang bertujuan mendampingi masyarakat dalam menghadapi pandemi.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Jumat, 06 Agustus 2021 - 13:29 WIB
WowKeren - Pemerintah Indonesia saat ini tengah disibukkan dengan persiapan percepatan transformasi digital Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate dan menyebut langkah itu bisa membuat Indonesia kembali pulih pascapandemi COVID-19.
"Percepatan transformasi digital yang berkelanjutan adalah elemen kunci dalam upaya pemulihan pascapandemi COVID-19, sekaligus menjadi komponen pendorong dalam membangun bangsa yang lebih tangguh dan berdaya," tutur Johnny dalam keterangan tertulis, Kamis (5/8). Menurutnya, transformasi digital untuk pemulihan ekonomi pascapandemi adalah pemerataan sinyal.
Sementara itu, Gerakan Nasional Penanggulangan COVID-19 Majelis Ulama Indonesia (Gernas MUI) meluncurkan sebuah program baru yakni "Salam MUI". Adapun program ini merupakan sebuah layanan konsultasi keagamaan dan kesehatan di masa pandemi secara virtual oleh pakar yang telah disediakan Gernas MUI.
Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ikhuwah KH Cholil Nafis mengatakan bahwa Gernas MUI Penanggulangan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi selain membantu masyarakat melalui program jaring pengaman sosial dan kebutuhan pokok, juga berupa layanan keagamaan dan kesehatan. Hal ini lah yang menjadi dasar mereka meluncurkan program "Salam MUI".
"Karenanya, Gernas MUI meluncurkan program baru yaitu 'Salam MUI', layanan konsultasi keagamaan dan kesehatan secara virtual atau telekonseling keagamaan Islam dan kesehatan berkenaan dengan pandemi COVID-19," tutur Cholil kepada Republika.co.id, Jumat (6/8).
Cholil menuturkan bahwa dengan adanya pandemi yang telah memasuki Indonesia selama satu tahun lebih ini tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga mental. "Terlebih dengan adanya pembatasan sosial, serta peningkatan kasus COVID-19 yang tinggi menjadikan kesabaran dan kepatuhan terus diuji," lanjutnya.
Berdasarkan hasil survei daring yang dilakukan oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI pada 8-17 Maret 2021, ditemukan bahwa selama pandemi, mayoritas responden merasa semakin religius. Kebanyakan dari mereka juga meyakini bahwa keberagamaan membantu secara psikologis dalam menghadapi pandemi COVID-19 dan dampaknya.
Akan tetapi, Balitbang dan Diklat Kemenag menilai masih sedikit layanan konsultasi keagamaan. "Karena itu perlu ada pendampingan terhadap umat agar tetap kuat dan tangguh dalam menghadapi pandemi ini," tandas Cholil.
(wk/tiar)