Wacana penyelenggaraan Formula E di DKI Jakarta, hingga saat ini diketahui masih menimbulkan kontroversi dan perdebatan di kalangan pejabat. Fraksi PDIP mengungkapkan sebuah potensi yang timbul dari pelaksanaan tersebut.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 31 Agustus 2021 - 21:07 WIB
WowKeren - Kabar mengenai pelaksanaan balap mobil listrik Formula yang disebut bakal digelar di DKI Jakarta hingga saat ini masih simpang siur. Meski demikian, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah mengatakan bahwa ajang mobil balap bergengsi itu ditargetkan digelar pada Juni 2022.
Sementara itu, Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta menyebut bahwa ada potensi pemborosan anggaran mencapai hingga Rp4,48 triliun terkait penyelenggaraan Formula E. "Ada potensi pemborosan anggaran Rp4,48 triliun, sebuah jumlah uang yang sangat besar untuk sebuah program yang tiba-tiba menjadi isu prioritas," tutur Manuara Siahaan selaku anggota PDIP di Gedung DPRD DKI Jakarta, Selasa (31/8).
Lebih lanjut, Manuara menjelaskan bahwa angka tersebut kemungkinan didapatkan dari pembayaran biaya komitmen selama 5 tahun sebesar Rp2,3 triliun. Kemudian biaya pelaksanaan selama 5 tahun senilai Rp1,2 triliun dan bank garansi selama 5 tahun sebesar Rp890 miliar.
"Memang bank garansi ini sudah kembali, penjelasan terakhir dari Jakpro, kita di komisi B, kebetulan saya ada di Komisi B menjelaskan bahwa memang bank garansi itu sudah kembali," jelas Manuara. "Tetapi commitment fee dan biaya pelaksanaan pendahuluan yang sudah sempat dikeluarkan oleh Pemprov tempo hari kan sudah sama-sama kita lihat."
Selain itu, Manuara juga menyoroti mengenai studi kelayakan gelaran Formula E. Audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyatakan bahwa studi kelayakan tersebut belum mencerminkan pembiayaan yang komprehensif karena variabel biaya, yakni biaya komitmen yang tidak dimasukkan dalam perhitungan.
Berdasarkan simulasi yang dilakukan pihak audit BPK, Manuara menyatakan bahwa gelaran Formula E selama 5 tahun bakal menimbulkan kerugian sebesar Rp1,3 triliun. Hal ini bisa saja terjadi apabila variabel biaya komitmen dan bank garansi dimasukkan ke dalam studi kelayakan.
"Khusus untuk tahun 2022, hasil simulasi kami dengan memasukkan variabel commitment fee, kerugian itu berpotensi terjadi Rp106 miliar, kalau dipaksakan di 2022, karena sifat dari perhelatan itu multiyears," tandas Manuara. "Maka secara kumulatif nanti di ujung perhelatan akan kelihatan kerugiannya Rp1,3 tiliun.
Manuara menegaskan hal itu lah yang membuat pihaknya men gajukan hak interpelasi terhadap kebijakan Anies terkait Formula E. Tujuan dari penyetopan penyelenggaraan Formula E adalah relokasi anggaran besar itu bisa dialokasikan untuk membantu rakyat kecil.
(wk/tiar)