Vaksinasi COVID-19 Di Madura Disebut Terendah Se-Jatim, Begini Penjelasan Satgas
AP Photo/Andy Wong
Nasional
Vaksin COVID-19

Vaksinasi hingga kini dinilai sebagai strategi yang efektif dalam melawan pandemi COVID-19. Maka dari itu, pemerintah terus menggencarkan percepatan vaksinasi.

WowKeren - Pemerintah hingga saat ini masih terus berupaya untuk melaksanakan percepatan vaksinasi COVID-19 bagi penduduk Indonesia. Adapun percepatan vaksinasi ini dilakukan agar bisa segera mencapai kekebalan komunal atau herd immunity.

Masing-masing wilayah di Indonesia saat ini diketahui telah mencapai atau mendekati target vaksinasi dari pemerintah pusat. Akan tetapi tidak sedikit juga wilayah yang masih di bawah target pemerintah pusat dalam pelaksanaan vaksinasi, seperti Madura.

Madura disebut sebagai wilayah yang tingkat vaksinasinya terendah di Jawa Timur (Jatim). Mengenai hal ini, Satgas Penanganan COVID-19 Jatim menilai rendahnya angka vaksinasi tersebut terkait dengan tingkat literasi dan masalah koordinasi.

dr Makhyan Jibril selaku Juru Bicara (Jubir) Rumpun Kuratif Satgas Penanganan COVID-19 Jatim mengungkapkan bahwa ada 5 daerah dengan tingkat vaksinasi rendah yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, dan Situbondo. "Kami pantau di lima daerah, di antaranya di Madura Raya, Situbondo, ini cakupan vaksinasinya masih rendah," terang Makhyan dalam keterangan, Jumat (24/9).


Makhyan menuturkan berdasarkan data Satgas COVID-19, daerah dengan capaian vaksinasi terendah di Jatim adalah Kabupaten Sumenep. Adapun vaksinasi dosis pertama baru mencapai 12,83 persen, dosis kedua mencapai 5,64 persen, dan vaksinasi dosis ketiga telah mencapai 53,91 persen.

Lebih lanjut, Makhyan menuturkan posisi kedua terendah tingkat vaksinasi COVID-19 adalah Pamekasan. Capaian vaksinasi dosis pertama yakni 12,90 persen, dosis kedua, 6,03 persen, dan dosis ketiga 56,27 persen.

Menurut Makhyan, ada beberapa faktor yang menyebabkan tingkat vaksinasi COVID-19 di Madura hingga saat ini masih rendah. Faktor tersebut di antaranya adalah masih rendahnya tingkat literasi atau pengetahuan masyarakat mengenai bahanya dari COVID-19, dan buruknya koordinasi di daerah.

"Rendahnya literasi ditambah koordinasi yang belum maksimal jadi sulit, minimnya koordinasi untuk menggelar vaksinasi massal, atau mempermudah jangkauan kepada masyarakat agar bisa menerima vaksin ini sangat diperlukan," tandas Makhyan.

Senada dengan Makhyan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim, dr Erwin Ashta Triyono, menyebut bahwa vaksinasi yang minim di lima daerah tersebut disebabkan oleh rendahnya pengetahuan masyarakat. "Vaksin ini tetap harus kita perjuangkan, rencana besok kita akan mencoba diskusi ulang dengan teman-teman dari kabupaten/kota yang masih di bawah 50 persen," beber Erwin.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts