Angka temuan Kementerian PPN/Bappenas tersebut mencakup food loss atau jumlah bahan pangan yang berkurang karena proses produksi, serta food waste atau makanan konsumsi yang terbuang.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 12 Oktober 2021 - 14:54 WIB
WowKeren - Data The Economist Intelligence Unit menunjukkan bahwa sampah makanan (food loss and waste / FLW) di Indonesia mencapai 300 kilogram per orang per tahun. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN / Bappenas) lantas membentuk tim kajian terkait hal ini.
Hasilnya, tim Kementerian PPN/Bappenas menemukan bahwa jumlah FLW di Indonesia bisa mencapai 184 kilogram per orang per tahun. Angka tersebut mencakup food loss atau jumlah bahan pangan yang berkurang karena proses produksi, serta food waste atau makanan konsumsi yang terbuang.
"Ternyata angka 184 kg per orang per tahun juga termasuk perhitungan dari food loss, dari sisi produksi. Mulai dari beras ditanam sampai ke piring kita, totalnya semua 184 kg per orang per tahun," jelas Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Medrilzam, dalam webinar pada Selasa (12/10).
Temuan Kementerian PPN/Bappenas ini lebih kecil dibanding jumlah food waste Indonesia yang disebutkan oleh The Economist Intelligence Unit. Meski demikian, Medrilzam menyatakan bahwa jumlah tersebut tetap saja besar dan sangat tidak efisien. Menurutnya, hal ini juga merugikan jika dilihat dari sisi ekonomi.
"Ini secara ekonomi merugikan sekali, banyak sekali makanan terbuang. Kalau dihitung bisa sampai 4-5 persen PDB kita. Dan yang terbuang itu setara dengan memberi makan 61 juta sampai dengan 125 juta orang," ungkap Medrilzam.
Tak hanya itu, makanan yang terbuang juga bisa menghasilkan 1,73 giga ton CO2 secara akumulasi, atau rata-rata 7 persen total emisi gas rumah kaca Indonesia dalam setahun. "Ini signifikan," ujar Medrilzam.
Oleh sebab itu, Medrilzam menekankan bahwa sangat penting bagi Indonesia untuk menerapkan strategi pengelolaan food loss and waste. Bappenas telah menyetujui lima arah kebijakan strategi pengelolaan food loss dengan harapan bisa diterapkan untuk 25 tahun ke depan.
"Makanya kami bilang harus ada afirmatif action karena implikasinya bisa kemana-mana, bisa ke ekonomi dan kemiskinan. Walau lebih di bawah apa yg disampaikan Economist Intelligence Unit, tapi ini kita harus benahi," pungkasnya
(wk/Bert)