124 hektare tanah dan aset industri yang disita disebut senilai Rp600 miliar, dengan total utang Tommy Soeharto sendiri mencapai Rp2,4 triliun. Aset tersebut akan segera dibaliknama.
- Elvariza Opita
- Jumat, 05 November 2021 - 15:29 WIB
WowKeren - Pemerintah mengejar kembali harta kekayaan negara yang gagal dibayarkan oleh para debitur dan obligor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Melalui satuan tugas yang dibentuk khusus untuk misi tersebut, pada Jumat (5/11) hari ini, aset tanah milik anak bungsu Presiden ke-2 RI Soeharto, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto disita oleh pemerintah.
Aset tersebut berbentuk tanah seluas 124 hektar di Karawang, Jawa Barat. Satgas BLBI juga menyita seluruh aset industri yang ada di dalam tanah tersebut.
"Ini adalah kawasan industri yang dulu dijaminkan oleh Tommy Soeharto kepada negara. Kita punya dokumen hukum untuk melakukan itu," ujar Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD kepada CNN Indonesia.
Sedangkan dalam rekaman video persnya terkait dengan penyitaan aset ini, Mahfud menjelaskan bahwa aset tanah tersebut adalah milik PT Timor Putra Nasional (TPN) yang dimiliki Tommy. "Tanah seluas 124 hektar yang dulu dijaminkan oleh Tommy Soeharto ke negara, tetapi ternyata itu masih disewakan dan nyewanya ke itu-itu juga," ungkap Mahfud.
Mahfud memastikan setelah ini aset Tommy akan segera dibaliknamakan menjadi atas nama negara. Penyitaan aset senilai Rp600 miliar ini adalah bagian dari pelunasan utang PT TPN senilai Rp2,374 triliun kepada negara.
Sementara Kepala Satgas BLBI, Rionald Silaban, menyatakan bahwa aset yang sudah disita tersebut akan segera dijual secara terbuka alias dilelang melalui mekanisme PUPN. Selain itu, Satgas BLBI juga akan melanjutkan penagihan kewajiban debitur/obligor, salah satunya dengan menguasai aset-aset jaminan seperti ini.
Mahfud MD sendiri menyatakan, hingga kini masih banyak obligor dan debitur yang terus ditagih utangnya. Untuk penagihan tersebut, Mahfud menjelaskan pihaknya sudah memiliki jadwal sekaligus skema yang terperinci.
"Kemudian sekarang Tommy, nanti apalagi, masih banyaklah," tegas Mahfud. "Dan kita punya schedule untuk itu, sesuai jadwal yang diberikan oleh Presiden. Skema kita, siapa dan kapan, itu sudah kita buat."
(wk/elva)