Harga BBM yang dijual oleh pengecer di jalan-jalan Kota Sorong, Papua Barat mengalami kenaikan sejak Jumat (5/11). Harga Pertalite bahkan mencapai Rp 50 ribu per liter pada Sabtu (6/11) sore.
- Bertilia Puteri
- Senin, 08 November 2021 - 12:32 WIB
WowKeren - Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite melonjak hingga Rp 50.000 per liter di pedagang pengecer di Sorong, Papua Barat. Lonjakan harga tersebut merupakan imbas dari kelangkaan yang terjadi di Sorong.
Menanggapi kondisi tersebut, PT Pertamina (Persero) pun buka suara. Menurut Edi Mangun selaku Unit Manager Communication, Relations dan CSR Regional Papua Maluku PT Pertamina Sub Holding Commercial Trading, kelangkaan pada Jumat (5/11) terjadi karena adanya rotasi kapal tanker pengangkut BBM milik Pertamina untuk wilayah Papua, Papua Barat, hingga Maluku akibat cuaca buruk.
Menurut Edi Mangun, cuaca buruk menghambat pergerakan kapal dari satu titik ke titik lain, sehingga menyebabkan terjadinya keterlambatan pendistribusian. Ia lantas meminta maaf atas kelangkaan di Sorong tersebut.
"Kami meminta maaf atas terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak di wilayah Sorong," tutur Edi Mangun dikutip dari Antara, Minggu (7/11).
Adapun stok BBM saat ini disebut Edi Mangun telah kembali normal. Pasalnya, terminal serta depot-depot pengisian di wilayah sekitar Sorong telah berkoordinasi untuk mengatasi kelangkaan BBM tersebut.
Di sisi lain, harga BBM yang dijual oleh pengecer di jalan-jalan Kota Sorong mengalami kenaikan sejak Jumat (5/11). Harga Pertalite sempat tembus ke angka Rp 30 ribu per liter hingga akhirnya mencapai Rp 50 ribu per liter pada Sabtu sore.
Salah seorang pengecer BBM bernama Hamid Amaro mengaku kelangkaan tersebut menjadi kesempatan untuk mencari keuntungan lebih. Pasalnya, antrean di seluruh SPBU Kota Sorong telah mengular, dan banyak orang yang tak mau mengantre memilih untuk membeli bensin eceran.
Sementara itu, salah seorang pengendara roda dua bernama Agus mengaku telah mengantre sejak pukul 05.00 WIT demi mendapatkan BBM dengan harga normal. "Saya mengantre dari jam lima pagi di SPBU sini, itupun sudah banyak yang antre sebelum saya datang. Kita antre cepat supaya bisa dilayani juga cepat, takutnya nanti habis lagi," tutur Agus dikutipa dari Kumparan.
(wk/Bert)