Epidemiolog menyebut belum ada indikasi terjadinya gelombang ketiga wabah COVID-19 di Indonesia. Namun Satgas COVID-19 tetap membeberkan langkah mencegah terjadinya hal tersebut.
- Elvariza Opita
- Jumat, 12 November 2021 - 17:10 WIB
WowKeren - Pemerintah berkali-kali mengingatkan agar masyarakat tetap waspada demi mencegah terjadinya gelombang ketiga wabah COVID-19. Meski demikian, Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane menyebut belum ada indikasi terjadinya gelombang ketiga wabah tersebut.
"Terkait dengan gelombang ketiga," ujar Masdalina dalam sebuah diskusi virtual, Jumat (12/11). "Sampai hari ini kami belum melihat indikasi untuk terjadinya gelombang ketiga."
Kendati demikian, Masdalina mengingatkan ada satu hal yang harus sangat diwaspadai Indonesia di samping disiplin protokol kesehatan serta mobilitas warga. Yakni soal keberadaan varian Corona AY.4.2 alias Delta Plus yang saat ini sudah masuk di Singapura dan Malaysia.
Karena itulah, diperlukan penjagaan yang lebih ketat di pintu-pintu masuk kedatangan internasional. "AY.4.2 sudah semakin mendekat ke Indonesia, tapi kita akan coba jaga di layer kedua jika layer pertama pintu masuk agak longgar," kata Masdalina.
Namun sejatinya, ada cara untuk mengantisipasi agar jangan sampai gelombang ketiga ini terjadi. Hal ini seperti disampaikan Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19, dr Reisa Broto Asmoro.
Yang pertama adalah dengan saling mengingatkan satu sama lain agar tetap menjalankan protokol kesehatan secara ketat. "Sikap untuk tidak lengah, tetap mengantisipasi ancaman gelombang ketiga dengan tetap berdisiplin prokes sambil menyadarkan diri dan banyak orang lain," terang Reisa.
Mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta mengurangi mobilitas adalah cara lain untuk mencegah terjadinya gelombang ketiga. "Banyak dampak positif dari disiplin protokol kesehatan. Menurut Satgas Penanganan COVID-19, lebih dari 90 persen orang Indonesia masih taat bermasker," tutur Reisa.
Selain itu, pemakaian PeduliLindungi untuk memantau mobilitas dan kerumunan warga serta mendorong cakupan vaksinasi COVID-19 dapat membantu mengendalikan pandemi ini. "Pemindaian barcode PeduliLindungi menjadi alat pemeriksa keamanan diri dan lingkungan dari risiko COVID-19 dan menyukseskan vaksinasi semua golongan terutama kepada lansia dan ibu hamil," pungkasnya.
(wk/elva)