Menkes Budi Sebut RI Sudah Lewati Puncak Gelombang Delta, Tetap Waspadai 3 Varian Baru Ini
sehatnegeriku.kemkes.go.id
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Selain memonitor varian baru, Budi memastikan bahwa pemerintah tetap mewaspadai mutasi virus sebelumnya. Kini, sudah ada 12 laboratorium yang diresmikan awal tahun lalu untuk mengantisipasi mutasi COVID-19 di Indonesia.

WowKeren - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa Indonesia berhasil melewati puncak penyebaran Varian Delta yang lebih menular. Meski demikian, Budi menegaskan bahwa masyarakat tetap harus menjalani tes COVID-19 secara disiplin demi mencegah penularan.

"Kita beruntung telah melewati puncak dari gelombang delta. Harusnya kita sudah relatif lebih tahan. (Namun) kita harus terus disiplin melakukan testing," tutur Budi dalam acara Webinar Kesehatan Nasional bersama PKS pada Sabtu (13/11).

Budi mengungkapkan bahwa sejak kasus COVID-19 di Tanah Air mengalami penurunan, banyak orang yang kemudian tidak mau menjalani testing. "Padahal seharusnya (langsung tes) begitu dia sudah (terindikasi) positif atau dia kontak erat," ujarnya.

Di sisi lain, Budi juga mengungkapkan tiga jenis varian COVID-19 yang kini harus diwaspadai agar tidak masuk ke Indonesia. Ketiga varian yang dimaksud adalah Lamda, Mu, dan C.1.2.


"Jadi kita selalu monitor sekarang varian-varian baru apa saja yang berbahaya, dan kita sudah lihat sekarang 3 varian baru Lamda, Mu, dan C.1.2, ini adalah varian baru yang juga menjadi perhatian WHO, dan memiliki beberapa mutasi berbahaya," kata Budi. "Jadi kita kontrol jangan sampai varian baru ini masuk ke Indonesia dengan kita perkuat perbatasan-perbatasan kita."

Lebih lanjut, Budi menyinggung soal kenaikan kasus COVID-19 di Inggris yang dipicu oleh adanya Varian Delta yang bermutasi. Oleh sebab itu, Budi berharap tiga varian baru ini tak sampai masuk ke Indonesia di saat kasusnya sudah melandai.

"Di Inggris terjadi kenaikan karena adanya varian baru, tapi bukan tiga itu. Jadi Inggris naik bukan karena Delta, kemudian begitu dia naik gara-gara Delta ternyata kita lihat Delta-nya juga sudah bermutasi dari Delta yang namanya kemarin disebut Pak Luhut, Delta Plus," ujarnya. "Itu juga cukup mengkhawatirkan. Jadi selain varian baru tapi varian Delta-nya sendiri bermutasi, dan di Inggris ini menyebabkan kenaikan seperti ini."

Selain memonitor varian baru, Budi memastikan bahwa pemerintah kini juga tetap mewaspadai mutasi virus sebelumnya. Saat ini, sudah ada 12 laboratorium yang diresmikan awal tahun lalu untuk mengantisipasi mutasi COVID-19 di Tanah Air.

"Kita juga memonitor bukan hanya varian baru. Di Indonesia sendiri varian Delta-nya itu sudah bermutasi menjadi 25, jadi ini sub-mutasi atau sub-lineage dari Varian Delta," ungkapnya. "Sampai sekarang varian kuat adalah Delta, dan kita beruntung sudah lampauin varian Delta sehingga imunitas rakyat Indonesia sudah ada."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts