Selain fokus untuk menangani pandemi COVID-19, pemerintah Indonesia saat ini diketahui juga tengah mempersiapkan pemberian dosis ketiga vaksinasi terhadap masyarakat.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Kamis, 18 November 2021 - 15:36 WIB
WowKeren - Pemerintah Indonesia hingga saat ini masih terus berupaya untuk bisa memvaksinasi COVID-19 seluruh penduduk. Di sisi lain, pemerintah juga mempersiapkan suntikan dosis ketiga atau booster bagi masyarakat umum.
Seperti yang diketahui, sejauh ini, suntikan booster hanya diperuntukkan bagi tenaga kesehatan atau nakes. Sementara itu, PT Bio Farma (Persero) menyebut bahwa Indonesia baru akan memulai uji klinik vaksin COVID-19 sebagai booster pada awal tahun 2022. Dalam pengujian ini, Bio Farma menggandeng perusahaan farmasi asal Tiongkok, Sinovac.
Erwin Setiawan selaku Kabag Ops. Pelayan PT Bio Farma mengatakan bahwa uji klinik vaksin COVID-19 itu bertujuan untuk menentukan sejauh mana kadar efikasi atau efektivitas vaksin booster dalam memberikan proteksi terhadap imun tubuh. Hal ini disampaikannya dalam konferensi pers dalam kanal YouTube Lawan Covid19 ID belum lama ini.
"Terkait booster, memang baru akan dilakukan di Januari 2022, kita akan bekerja sama dengan Sinovac untuk melakukan studi efikasi dosis booster, paling cepat tahun depan dilaksanakan," terang Erwin.
Lebih lanjut, Erwin memastikan bahwa hasil uji klinik vaksin booster oleh Sinovac di Tiongkok menunjukkan hasil yang cukup baik. Menurutnya, pemberian dosis booster nantinya akan memberikan peningkatan imunitas yang cukup tinggi dalam melawan COVID-19.
Selain dengan Sinovac, kata Erwin, Indonesia juga tengah bekerja sama dengan Sinopharm untuk meningkatkan kapasitas produksi. Dengan begitu, apabila pemberian booster sudah dimulai, maka ketersediaan vaksin COVID-19 tak menjadi hambatan utama.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR Emanuel Melkiades Laka Lena membeberkan 3 faktor yang mendorong pemberian suntikan booster kepada masyarakat harus disegerakan. Faktor pertama yakni lantaran pemberian dosis pertama dan kedua vaksin COVID-19 dinilai tidak membuat penerima mencapai angka antibodi yang maksimal.
Kedua, kata Melki, dikarenakan efikasi vaksin COVID-19 akan menurun setelah enam bulan dari suntikan kedua. Ketiga, pasti ada varian baru yang menjadi ancaman baru bagi masyarakat.
Maka dari itu, Melki menilai bahwa pemberian dosis ketiga kepada masyarakat Indonesia sangat penting dan harus disegerakan. "Karena tiga hal tersebut terjadi secara acak di banyak tempat ya, bisa sekaligus bisa salah satu," tandas Melki.
(wk/tiar)