Jokowi Sebut Penanganan COVID-19 RI Diapresiasi Dunia, Epidemiolog Ingatkan Tak Boleh Euforia
Instagram/ kemensetneg.ri
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Dicky Budiman selaku epidemiolog dari Universitas Griffith Australia menyebutkan bahwa Indonesia masih berpotensi mengalami kenaikan kasus COVID-19, terutama menjelang momen Natal dan Tahun Baru.

WowKeren - Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa kesuksesan Indonesia dalam menangani pandemi COVID-19 telah mendapat pengakuan dunia. Hal ini disampaikan Jokowi kala berpidato di Milad ke-109 Muhammadiyah pada Kamis (18/11).

"Kita patut bersyukur bahwa penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia diapresiasi oleh masyarakat internasional," tutur Jokowi.

Menurut Jokowi, laju penyebaran COVID-19 Tanah Air berhasil menurun berkat kerja sama dan kerja keras seluruh pihak. Masyarakat pun secara perlahan bisa kembali beraktivitas dan melakukan usaha normal kembali.

"Usaha-usaha produktif juga mulai bergerak walaupun kita tetap harus waspada agar kasus positif tidak naik dan tidak bangkit kembali," kata Jokowi.


Di sisi lain, epidemiolog justru mengingatkan pemerintah untuk tak terlalu termakan euforia di tengah melandainya kasus COVID-19. Dicky Budiman selaku epidemiolog dari Universitas Griffith Australia menyebutkan bahwa Indonesia masih berpotensi mengalami kenaikan kasus COVID-19, terutama menjelang momen Natal dan Tahun Baru.

"Apresiasi itu tentunya tidak boleh menjadi pengabaian atau euforia," kata Dicky kepada CNN Indonesia. "Karena bagaimanapun ini adalah perjuangan bersama-sama, terutama masyarakat yang berdarah-darah, banyak korban jiwa yang jatuh. Lagipula perjalanan pandemi COVID-19 masih panjang."

Lebih lanjut, Dicky mengingatkan bahwa Indonesia adalah bagian dari komuniitas global. Ini berarti, Indonesia tak bisa "aman" sendiri di saat negara lain masih mengalami lonjakan kasus COVID-19.

Selain itu, Dicky menyoroti turunnya jumlah pemeriksaan Whole Genome Sequencing yang berguna untuk mendeteksi potensi masuknya varian COVID-19 baru ke Indonesia. Menurutnya, pemerintah seharusnya memperkuat dan menambah jumlah pemeriksaan tersebut untuk mengantisipasi ancaman Varian Delta Plus yang kini telah masuk ke Singapura dan Malaysia.

"Yang masih perlu diingat, kita sebetulnya itu tidak memiliki peta yang cukup untuk menilai situasi pandemi dalam negeri. Karena ya testing-nya kita trennya juga menurun, apalagi pemeriksaan strain virus WGS itu ya," terangnya.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts