Epidemiolog Sorot Vaksinasi COVID-19 RI Menurun Meski Ada Ancaman Gelombang Ketiga
AFP/Jeff Kowalsky
Nasional
Vaksin COVID-19

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengakui bahwa laju vaksinasi virus corona (COVID-19) di Tanah Air menurun dalam tiga pekan terakhir.

WowKeren - Sejumlah ahli memprediksi gelombang ketiga penularan COVID-19 dapat terjadi di Indonesia pasca momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Menjelang momen Nataru ini, pemerintah justru dikritik epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, karena dinilai kurang maksimal dalam melakukan program vaksinasi.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan telah mengaku bahwa laju vaksinasi COVID-19 menurun dalam tiga pekan terakhir. Dicky pun mempertanyakan klaim kesiapan pemerintah dalam menghadapi ancaman gelombang ketiga COVID-19.

"Ini harus segera diupayakan ya, ditingkatkan, diakselerasi vaksinasi ini. Karena tampaknya untuk Indonesia harus dipahami begini, kemarin itu berhasil karena vaksinasi banyak dilakukan di Jawa-Bali, dan dua pulau itu mobilitas memang terbesar," jelas Dicky kepada CNN Indonesia pada Kamis (25/11).

Oleh sebab itu, Dicky mendorong pemerintah untuk memaksimalkan vaksinasi COVID-19 di daerah-daerah, khususnya wilayah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal). Dicky menilai logistik tak bisa lagi menjadi alasan karena program vaksinasi sudah terlaksana hampir setahun.

Selain itu, Dicky meminta Kemenkes untuk mulai membenahi manajemen logistik vaksinasi COVID-19. Caranya adalah dengan mulai memberikan kewenangan luas bagi Pemprov terkait vaksinasi COVID-19.


Menurut Dicky, tidak sedikit kepala daerah yang mengeluhkan alokasi Vaksin COVID-19 kadang tak sesuai kebutuhan. Oleh sebab itu, Dicky menyarankan agar Kemenkes segera mengirim Vaksin COVID-19 ke masing-masing provinsi begitu barangnya tiba di Indonesia. Setelah itu, kepala daerah bisa menghitung sasaran vaksinasi tiap kabupaten/kota dan mengirim jumlah vaksin sesuai kebutuhan mereka.

"Jadi kalau bisa vaksin COVID-19 langsung dikirim ke provinsi-provinsi perwakilan, jadi ada hub begitu. Yang wilayah Kalimantan, Sulawesi, bisa di-drop di Sumatera misalnya," paparnya.

Menurut Dicky, cakupan vaksinasi yang harus dicapai saat ini adalah 90 persen. "Karena 80-85 persen masih bisa terjadi gejolak, dan itu tidak hanya di Eropa tapi juga Singapura," pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin telah mengungkapkan sejumlah hal yang menjadi penyebab penurunan laju vaksinasi COVID-19. Salah satunya adalah masyarakat Indonesia banyak yang masih ragu untuk menggunakan vaksin COVID-19 selain merek Sinovac.

"Tiga minggu terakhir ini terjadi penurunan laju suntikan yang tadinya konsisten di atas dua juta, sudah ada penurunan, ini disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah karena memang Sinovac vaksinnya sudah mulai menurun, diganti oleh Astrazeneca dan Pfizer," jelas Budi pada Senin (22/11) lalu. "Tapi karena baru, masyarakat masih ragu untuk menggunakannya."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts