COVID-19 Varian Botswana B.1.1.529 Resahkan Dunia, RI Siap Antisipasi dengan Cara Ini
Pixabay/Mahmoud Ahmed
Nasional
COVID-19 di Indonesia

COVID-19 varian B.1.1.529 ini berkembang di bagian selatan Afrika dan memicu kekhawatiran global karena dicurigai bersifat sangat mudah menular. Pemerintah Indonesia turut mengantisipasinya.

WowKeren - Peneliti dunia saat ini sedang dihebohkan dengan temuan virus Corona varian B.1.1.529. Varian baru ini pertama dijumpai di Botswana dan saat ini sudah dikonfirmasi juga di Afrika Selatan serta Hong Kong.

Varian ini dikhawatirkan jauh lebih cepat menular atau resisten terhadap vaksin COVID-19 karena banyaknya mutasi yang ditemui di protein durinya. Dengan karakteristiknya yang mengkhawatirkan, tak heran bila pemerintah Indonesia juga turut mengantisipasi varian yang diklaim sebagai "terburuk yang pernah ada" ini.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kemenkes, Siti Nadai Tarmizi, menyatakan pihaknya telah mewaspadai COVID-19 varian B.1.1.529 tersebut. Meski ada dugaan varian B.1.1.529 bisa menurunkan kemanjuran vaksin, pemerintah bertekad untuk mempercepat laju vaksinasi dosis kedua sebanyak 56 persen dari 208 juta total sasaran.

"Karena upaya mengendalikan pandemi tergantung dengan kekebalan bersama. Walau efikasi (vaksin) turun tetapi kekebalan kelompok akan mencegah terjadinya mutasi ataupun persebarannya," tutur Siti Nadia kepada Kompas, Jumat (26/11). "(Tapi) menurunkan efikasi vaksin kita tunggu tentunya pernyataan WHO."


Mempercepat laju vaksinasi COVID-19 bukan satu-satunya upaya pemerintah mencegah varian B.1.1.529. Menurut Siti Nadia, saat ini pemerintah juga akan memperketat pintu masuk kedatangan internasional.

Saat ini hanya 19 negara dengan kondisi COVID-19 yang dinilai sudah membaik yang boleh masuk ke Indonesia. "Kita membatasi WNA yang masuk ke negara kita, saat ini kan baru 19 negara sesuai kriteria mereka pada Level PPKM 1 atau 2 dan positivity rate-nya di bawah 5 persen," terang Siti Nadia.

Sebagai informasi, varian B.1.1.529 menyita perhatian peneliti karena banyaknya mutasi yang dijumpai di protein durinya. Meski kasus positif yang ditimbulkan oleh varian ini masih tergolong sedikit, namun sifat mutasi virusnya membuat banyak peneliti khawatir varian B.1.1.529 memiliki tingkat penularan lebih buruk daripada Delta.

Salah satu yang turut menyuarakan kekhawatiran adalah Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman. "Berkaitan dengan temuan varian B.1.1.529 ini, tentu harus jadi kewaspadaan antara lain dengan artinya bicara proyeksi-proyeksi harus dijadikan mitigasi situasi yang melandai saat ini di Indonesia," tegas Dicky.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts