COVID-19 Omicron Mengancam, Menko PMK Nilai RI Lebih Siap Hadapi Gara-Gara Varian Delta
kemenkopmk.go.id
Nasional
Mutasi Corona Masuk Indonesia

Indonesia turut mengantisipasi COVID-19 Omicron (B.1.1.529) yang diklaim memiliki jauh lebih banyak mutasi daripada varian lain. Namun Menko PMK Muhadjir Effendy menilai Indonesia sudah lebih siap.

WowKeren - Sebagaimana negara lain, Indonesia juga mengantisipasi penyebaran virus Corona varian Omicron (B.1.1.529). Meski demikian, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy menilai Indonesia bisa menghadapi varian Omicron lantaran sebelumnya sudah pernah menghadapi varian Delta.

"Kita kan sudah punya pengalaman dalam menghadapi varian Delta. Dengan adanya varian Delta itu juga banyak hikmah misalnya sekarang kondisi faskes kita sangat bagus, ketersediaan oksigen kita sangat baik, kemudian tenaga medis kita juga lebih siap," kata Muhadjir, dikutip pada Selasa (30/11). "Jadi banyak hikmah yang kita petik juga dari wabah."

Bukan hanya itu, survei Kementerian Dalam Negeri mengungkap rata-rata tingkat imunitas masyarakat sudah mencapai 90 persen. Karena itulah Muhadjir yakin penduduk Indonesia sudah cukup kebal untuk menghadapi COVID-19 ke depannya, meski masih ada beberapa hal yang dicemaskan pemerintah mengenai varian Omicron.


"Tetapi memang yang kita khawatirkan kalau varian baru ini nanti bisa menghabisi kekebalan-kekebalan yang sudah didapat itu. Ini yang kita waspadai," papar Muhadjir. "Tadi saat rapat, Pak Presiden sudah menugaskan khusus ke Pak Menkes untuk betul-betul memantau varian baru ini bahkan meminta agar di-update perhari."

Di sisi lain, Muhadjir juga mengapresiasi masyarakat Indonesia yang menerapkan konsep gotong-royong melalui pendekatan pentahelix dalam menangani COVID-19. "Jadi lima kekuatan (pentahelix) itulah yang selama ini terbukti bisa saling bahu-membahu, saling kait-mengait menyukseskan penanganan COVID-19," jelas Muhadjir.

"Karena itu, saya dengan rendah hati mengatakan bahwa peranan negara bukan satu-satunya, bahkan hanya sekitar 20 persen saja dalam upaya kita menangani COVID-19 ini," imbuh sang mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. "Dan sisanya merupakan peranan dari kelompok-kelompok masyarakat dan peranan-peranan strategis yang sangat mendukung."

Pasalnya gotong-royong sendiri tidak lepas dari falsafah Bangsa Indonesia yakni Pancasila. "Jadi sebetulnya kita akan tahu makna yang sangat strategis gotong-royong ini ketika kita menghadapi pandemi dan kalau kita membanding dengan apa yang dilakukan oleh negara-negara yang tidak memiliki jiwa gotong-royong, tidak berdasar Pancasila," pungkas Muhadjir.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts