Penjelasan Menag Yaqut Soal 'Kloter Pertama' Jemaah RI yang Berangkat Umrah
AFP
Nasional

Sebanyak 25 orang Indonesia berangkat ke Arab Saudi untuk menjalankan ibadah umrah pada 23 Desember 2021 lalu. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas lantas memberikan penjelasan mengenai keberangkatan 'kloter pertama' tersebut.

WowKeren - "Kloter pertama" jemaah umrah Indonesia yang terdiri dari pengurus asosiasi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) telah berangkat ke Arab Saudi. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menjelaskan bahwa mereka diberangkatkan untuk melihat mekanisme pelaksanaan umrah.

"Ini kepentingan supaya tim PPIU tahu prosedur di sana (Arab Saudi) bagaimana," jelas Yaqut di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) pada Rabu (29/12).

Menurut Yaqut, mereka berangkat dengan mengikuti seluruh prosedur yang ada dan menerapkan protokol kesehatan sesuai ketentuan. Salah satunya adalah menjalani masa karantina sebelum dan sesudah ibadah umrah.

"Ini untuk kemudahan jamaah dan mereka akan mengikuti semua prosedur dan protokol kesehatan, termasuk mereka akan karantina 10 hari," papar Yaqut. "Kita kan melayani semua, semua harus dilayani."

Lebih lanjut, Yaqut juga memberi penjelasan tentang PeduliLindungi yang masih belum terintegrasi dengan aplikasi Tawakalna. Menurut Yaqut, proses sinkronisasi saat ini masih berlangsung. Ia berharap agar proses integrasi tersebut dapat dipercepat oleh Kementerian Kesehatan.


"Saat ini kita proses, itu domain Kemenkes. Kita sudah minta untuk dipercepat karena ini terkait dengan banyak hal, termasuk bagaimana jamaah umrah kita bisa mudah sampai ke sana," pungkasnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Azhar Ghazali mengungkapkan bawha rombongannya diminta untuk menjalani karantina selama lima hari setibanya di Jeddah, Arab Saudi. Mereka dikarantina di Vivid Hotel, Al Hamra, Jeddah dengan biaya sekitar Rp 7 juta.

Selama karantina, jemaah wajib dua kali tes RT-PCR, yakni pada hari kedua dan keempat. Bila sudah dinyatakan 2 kali negatif COVID-19 baru boleh melanjutkan Umrah.

Ketika mendarat di Jeddah, mereka juga tidak perlu melakukan scan QR Code menggunakan aplikasi PeduliLindungi. Mereka hanya menjalani pemeriksaan dokumen hasil negatif tes PCR. Petugas Saudi memastikan bahwa tes PCR hanya dilakukan di laboratorium yang ditunjuk otoritas.

Tim advance ini akan berada di Arab Saudi sampai 1 Januari 2022. Bila berjalan lancar, keberangkatan jemaah Umrah gelombang-gelombang berikutnya bisa dilakukan meski dengan jumlah yang terbatas.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait