BMKG Ungkap Ancaman Megathrust Selat Sunda Bisa Picu Gempa M 8,7 Sewaktu-waktu
Nasional
Gempa Banten

Meski gempa bumi yang menggoncang Banten kemarin cukup kuat, Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menilai bahwa gempa tersebut bukanlah ancaman sesungguhnya.

WowKeren - Gempa bumi dengan magnitudo 6,6 menggoncang Banten pada Jumat (14/1) dan terasa hingga ke Lampung dan DKI Jakarta. Diketahui, Selat Sunda dan sekitarnya merupakan wilayah yang memang kerap digoncang gempa hingga tsunami.

Meski gempa bumi kemarin cukup kuat, Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menilai bahwa gempa tersebut bukanlah ancaman sesungguhnya. Menurut Daryono, ada potensi ancaman yang lebih besar dan harus diwaspadai, yakni segmen megathrust Selat Sunda yang bisa memicu gempa hingga 8,7 magnitudo.

"Gempa Ujung Kulon, Banten kemarin sebenarnya bukan ancaman sesungguhnya karena segmen megathrust Selat Sunda mampu memicu gempa dengan magnitudo tertarget mencapai 8,7 dan ini dapat terjadi sewaktu-waktu," ungkap Daryono dilansir Antara, Sabtu (15/1). "Inilah ancaman yang sesungguhnya."


Lebih lanjut, Daryono menjelaskan bahwa hingga saat ini masih belum ada teknologi yang dapat memprediksi kapan gempa akan terjadi. Menurut Daryono, gempa besar karena segmen megathrust Selat Sunda dapat terjadi sewaktu-waktu karena wilayah ini belum pernah digoncang gempa sangat besar dan diapit dua lokasi gempa besar di Pangandaran dan Bengkulu.

"Kapan saja dapat terjadi karena Selat Sunda ini merupakan salah satu zona seismic gap di Indonesia yang selama ratusan tahun belum terjadi gempa besar sehingga patut diwaspadai karena berada di antara dua lokasi gempa besar yang merusak dan memicu tsunami yaitu Gempa Pangandaran magnitudo 7,7 (2006) dan Gempa Bengkulu magnitudo 8,5 (2007)," paparnya.

Berdasarkan catatan sejarah, tercatat sempat terjadi tsunami Selat Sunda pada tahun 1722, 1852, dan 1958 yang disebabkan oleh gempa. Kemudian tsunami di tahun 416, 1883, 1928, 2018 berkaitan dengan erupsi Gunung Krakatau. Sedangkan tsunami tahun 1851, 1883, dan 1889 dipicu aktivitas longsoran.

"Dalam ketidakpastian kapan terjadinya itu kita masih dapat menyiapkan upaya mitigasi konkret seperti membangun bangunan tahan gempa, memodelkan bahaya gempa dan tsunami, kemudian menjadikan model ini sebagai acuan mitigasi," tukasnya.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts