Institut Teknologi Sepuluh Nopember tengah mengembangkan alat diagnosa kesehatan baru. Alat buatan tim ITS itu digadang-gadang mampu mendeteksi dini COVID-19 hanya dengan suara batuk seseorang.
- Amelia Nur Fatimah
- Kamis, 20 Januari 2022 - 13:58 WIB
WowKeren - elBicare Cough Analyzer merupakan sebuah alat diagnosis kesehatan yang kini tengah dikembangkan oleh tim dari Tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Alat ini disebut bisa mendeteksi dini Covid-19 melalui batuk berdasarkan suara paru-paru.
"Alat elBicare Cough Analyzer mampu mendeteksi penderita Covid-19 tanpa harus melakukan kontak langsung," ujar Ketua Tim ITS Dhany Arifianto, melalui keterangannya, Rabu (19/1).
Menurut Dhany, elBicare Cough Analyzer yang diimplementasikan di rumah sakit mampu memberikan perlindungan awal bagi tenaga kesehatan yang rentan tertular Covid-19 dari pasien. Selain untuk menangani pandemi COVID-19 elBicare Cough Analyzer juga disiapkan untuk deteksi penyakit pernapasan lain di masa depan.
"Inovasi ini tak hanya dikembangkan untuk menangani pandemi saat ini, namun juga ditujukan untuk penyakit pernapasan yang menular lainnya," jelas dosen Departemen Teknik Fisika ITS itu.
Dhany menjelaskan elBicare Cough Analyzer dilengkapi dengan mikrofon bersensor tipis dan kecil yang berguna untuk menangkap suara di sekitar alat. Suara yang masuk selanjutnya akan dianalisia, apakah termasuk suara batuk atau bukan oleh algoritma pada prosesor alat yang telah dirangkai tim peneliti.
Suara batuk akan diklasifikasikan lagi ke dalam dua kategori, yaitu batuk yang terindikasi Covid-19 dan non-Covid-19. Batuk yang dikategorikan sebagai batuk non-Covid-19 pun, menurut dia, akan dideteksi lagi penyebabnya, misalnya batuk normal, batuk gejala tuberkulosis (TBC), bronkitis dan gejala lainnya.
"Daya jangkau tangkapan suara oleh alat ini mencapai 10 meter. Pengelompokan ini didasarkan pada penyesuaian frekuensi, amplitudo dan komponen harmonik suara paru-paru," bebernya
Hasil analisis elBicare Cough Analyzer terhadap penyebab batuk akan tersimpan dan terintegrasi otomatis, yang kemudian didistribusikan ke perangkat pengguna dengan bantuan bluetooth. Dhany bersama delapan anggota tim lainnya ini memastikan ke depannya tim akan mengembangkan distribusi data menggunakan bantuan Wi-Fi.
"ElBicare Cough Analyzer mampu bertahan selama 20 jam penggunaan yang terus-menerus," pungkasnya.
Data pengelompokan batuk non-Covid-19 didapatkan melalui penelitian mandiri tim yang anggotanya terdiri dari tiga mahasiswa ITS jenjang sarjana (S1), dua mahasiswa ITS jenjang magister (S2), dan tiga orang dokter (salah satunya spesialis paru) dari Universitas Airlangga (Unair). Sementara itu, terkait data penelitian batuk gejala Covid-19 didapatkan melalui penelitian yang bekerja sama dengan University of Cambridge, Inggris.
(wk/amel)