Klarifikasi Netflix Soal Kontroversi Warna Kulit 'Single's Inferno' Picu Perdebatan, Kenapa?
Netflix
TV
Demam Single Inferno

Setelah Netflix merilis klarifikasi terkait kontroversi warna kulit di 'Single's Inferno', muncul perdebatan di kalangan netizen. Sebagian mengerti kekecewaan pemirsa luar negeri, namun yang lain membela kebudayaan sendiri.

WowKeren - Bukan hanya dinikmati pemirsa manca negara, reality show kencan "Single's Inferno" juga sempat memicu kontroversi terkait ucapan para peserta. Sejak awal tayang acara ini dikritik karena salah satu peserta menyatakan suka pada kulit berwarna putih sehingga menimbulkan kontroversi warna kulit.

Pernyataan para peserta pria yang menyukai Shin Ji Yeon karena kulitnya sangat putih memantik pendapat berbeda dari pemirsa internasional. Mereka kecewa karena standar kecantikan "kulit putih" di Korea ditampilkan di "Single's Inferno".

Sesuai janjinya General Vice President (VP) Netflix, Korea Kang Dong Han, sudah memberikan tanggapan mengenai kontroversi terkait. Pihak Netflix Korea menganggapnya sebagai sarana belajar mengerti budaya lain. Dalam hal ini mereka menyoroti bagaimana hal biasa di Korea tidak bisa diterima di luar negeri, begitu juga sebaliknya.

Terkait permasalahan teks subtitle, Netflix pun akan lebih banyak belajar. "Studi humaniora itu perlu, itu sangat penting dan saya menganggap serius hal ini. Kami sering menerjemahkan (konten) sendiri, subtitle dan dan dubbing, tapi kami kadang kala berkolaborasi dengan mitra pihak ketiga. Setiap kasus adalah kesempatan berkembang dan kami belajar dengan sikap rendah hati," papar Netflix.


Atas pernyataan Netflix Korea mengenai kontroversi warna kulit yang membayangi "Single's Inferno", sebagian pemirsa memahami apa masalahnya. Di forum online seperti The Qoo, hal ini menjadi diskusi di mana mereka harus menjelaskan bahwa ini bagian dari budaya. Dalam hak kurasinya, mereka setuju bahwa pihak penyedia layanan harus berhati-hati dalam menerjemahkan.

"Apa yang mereka katakan itu benar... mereka punya hak untuk salah paham," kata salah satu netizen. "Kupikir kita perlu menjelaskan budaya kita dari kedua sisi," imbuh netizen lain. "Tidak, tapi subtitle adalah masalah di sini," tambah netizen yang lain.

Di sisi lain, ada pula netizen yang membela diri dan merasa bahwa protes pemirsa luar negeri menyinggung budaya Korea di mana kulit putih sudah disukai sejak ribuan tahun lamanya. Bukan hanya perdebatan, mereka juga menjelaskan bahwa putih yang dimaksud orang Korea sama sekali berbeda dengan anggapan pemirsa luar negeri apalagi pemirsa barat.

"Tapi 'kulit putih yang kalian gambarkan berbeda dari definisi kami tentang 'kulit putih'," komentar seorang netizen. "Kami hanya menyebut putih sebagai sesuatu yang putih... apa masalahnya?" sahut yang lain. "Orang Korea lebih menyukai kulit cerah 5 ribu tahun yang lalu bahkan sebelum mengetahui tentang orang kulit putih dan kulit hitam," sambung lainnya.

(wk/inta)


You can share this post!


Related Posts