Ratusan Pesantren di Indonesia Masih Terafiliasi dengan 3 Jaringan Teroris
opop.jatimprov.go.id
Nasional

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap sejumlah fakta soal jaringan terorisme yang ada di Indonesia. Termasuk soal ratusan pesantren yang terafiliasi dengan jaringan teroris.

WowKeren - Terorisme masih menjadi persoalan yang sulit diberantas di Tanah Air. Bahkan hampir setiap tahun teror yang dilakukan para anggota terorisme tersebut terjadi di Indonesia. Pihak berwajib pun kesulitan memberantas masalah terorisme hingga ke akarnya.

Baru-baru ini, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar mengatakan masih menemukan adanya pondok pesantren yang diduga terafiliasi dengan jaringan teroris. Bahkan jumlahnya mencapai ratusan pondok pesantren yang terletak di berbagai wilayah di Tanah Air. Pondok-pondok pesantren tersebut diketahui terafiliasi dengan 3 jaringan teroris besar.

"Ada 11 pondok pesantren yang menjadi afiliasi Jamaah Anshorut Khalifah, 68 pondok pesantren afiliasi Jamaah Islamiyah dan 119 pondok pesantren afiliasi Anshorut Daulah atau Simpatisan ISIS," ungkap Boy Rafli Amar dalam pemaparan di Komisi III DPR pada Selasa (25/1) kemarin.

Selain pondok pesantren, sejumlah fasilitas dan tempat juga dimiliki jaringan teroris tersebut. Di antaranya rumah singgah milik jaringan teror di Depok yang terdiri dari 10 kontrakan, 2 mobil operasional, 3 buah motor, 3 unit usaha, yaitu toko herbal, warung mie bakso, dan ayam geprek.


Kemudian, ada juga di Cikampek yang terdiri dari 30 kontrakan, 2 mobil, 5 motor, 2 unit usaha jahit dan gamis. Di Cilacap, ada 3 kontrakan dan dua motor operasional serta ada di Solo.

Sementara itu, jumlah narapidana terorisme (napiter) yang ada di Indonesia sebanyak mencapai 1.031 orang. Boy merincikan, dari total tersebut, sebanyak 575 orang diantaranya berada di rumah tahanan (rutan) dan 456 oramg berada dalam lembaga pemasyarakatan (lapas) yang tersebar di 22 tempat di seluruh Indonesia.

"Sehingga hingga saat ini total tahanan tindak pidana terrorisme dan narapidana tindak pidana terorisme berjumlah 1.031 orang," pungkas Boy Rafli Amar.

Boy Rafli Amar menyebut bahwa jumlah tahanan napi teroris terbesar berada di lokasi Jawa Barat dengan jumlah sebanyak 471 orang. Diikuti dengan jumlah napiter di Jawa Tengah 205 orang, Jakarta 163 orang, Lampung 37 orang dan Jawa Timur 36 orang.

(wk/amel)


You can share this post!


Related Posts