Stok Minyak Goreng Murah di Ritel Modern   Kerap Habis, Ini Penjelasan Kemendag
Nasional

Stok minyak goreng murah yang harganya sesuai harga eceran tertinggi (HET) tersebut kerap kosong di sejumlah ritel modern. Kementerian Perdagangan pun angkat bicara terkait isu ini.

WowKeren - Pemerintah telah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk minyak goreng curah hingga kemasan. Meski demikian, stok minyak goreng murah yang harganya sesuai HET tersebut kerap kosong di sejumlah ritel modern.

Kementerian Perdagangan lantas mengakui bahwa kebijakan minyak goreng satu harga kurang optimal karena masyarakat justru jadi kesulitan mendapat minyak goreng. Padahal saat harga minyak goreng masih tinggi tidak ada keterbatasan stok.

"Pada kemasan sederhana alasannya disampaikan karena infrastruktur kemasan belum siap. Kalau belum siap, kita ambil langkah lagi, kita bikin satu harga. Enggak ada alasan lagi semua harus Rp 14.000 per liter. Kenyataannya tidak optimal juga," ungkap Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Oke Nurwan, dilansir Kompas TV pada Jumat (4/2).

Menurut Oke, pihaknya telah berkoordinasi untuk memeriksa adanya kebocoran ekspor. Hal ini dilakukan untuk mengecek ke mana perginya pasokan minyak goreng.

"Saya kuncinya ekspornya. Sampai sekarang belum ada yang keluar. Tetapi kok barangnya jarang? Ini ada perlawanan kah atau apakah?" lanjutnya.


Sebelumnya, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi telah buka suara atas stok minyak goreng yang kerap habis di ritel modern. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan minyak goreng di ritel modern. Oleh sebab itu, Lutfi mengungkapkan pentingnya mengurangi tekanan permintaan minyak goreng di ritel modern dengan menyediakan minyak goreng curah senilai HET di pasar tradisional.

"Ketika di pasar tradisional minyak curahnya sudah ada, pressure untuk beli di ritel itu akan berkurang sehingga nanti suplai normal, semuanya mengikuti harga eceran tertinggi," papar Lutfi kala meninjau harga minyak goreng di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Kamis (3/2).

Adapun harga minyak goreng di pasar tradisional pada awal bulan Februari ini masih belum mengikuti HET yang ditentukan pemerintah. Pasalnya, pedagang pasar menjual minyak goreng stok lama yang dibeli dengan harga lama yang lebih tinggi.

Untuk menurunkan harga minyak goreng curah di pasar tradisional, dilakukan upaya pencampuran antara minyak goreng stok lama dengan yang baru. Dengan demikian, Lutfi berharap harga minyak goreng curah di pasar tradisional bisa turun sesuai HET dalam beberapa hari ke depan.

"Sekarang mereka (pedagang pasar) mulai proses mem-blanding. Mem-blending itu harga yang mereka beli mahal sebelumnya, dicampur dengan harga yang murah. Kemarin harga Rp 18.000-19.000. Sekarang ini dengan proses blending mereka mencampur, sehingga harganya bisa sama-sama turun 2-3 hari ke depan menjadi Rp 11.500 per kilogram untuk minyak curah," paparnya.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait