Ribuan massa dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah rencananya bakal mendatangi istana untuk melakukan demo. Salah satunya, mereka menolak wacana penundaan Pemilu 2024.
- Amelia Nur Fatimah
- Rabu, 02 Maret 2022 - 16:31 WIB
WowKeren - Massa dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) rencananya akan melakukan demo di Istana Negara hari ini, Rabu (2/3). Dalam demo tersebut, massa salah satunya bakal menyuarakan penolakan atas wacana penundaan Pemilu 2022. Akan tetapi saat hendak menuju Istana, para mahasiswa ini dihadang oleh aparat kepolisian.
Para mahasiswa ini awalnya berkumpul di Kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat. Saat massa hendak melakukan longmarch ke Istana, aparat menahan mereka tepat di depan Kantor PP Muhammadiyah.
Tak ayal, sksi dorong-dorongam sempat terjadi antara mahasiswa dan aparat kepolisian. Massa dari mahasiswa Muhammadiyah berusaha menembus barikade yang dibuat aparat.
"Kita mau ke Istana enggak dibolehin," teriak seorang massa melansir Cnnindonesia.com. "Tugas ke polisi adalah mengawal aksi ini. Kita tidak mau anarkis," ujar mahasiswa yang lain.
Sebelumnya, berdasarkan rilis yang diterima, aksi massa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ini salah satunya untuk menyuarakan penolakan wacana penundaan Pemilu 2024. Mereka juga mendesak penghapusan presidential threshold menjadi 0 persen. Selain itu, massa IMM juga disebut akan menyuarakan penolakan BPJS sebagai syarat izin berbagai pengurusan administrasi dan jual beli.
Massa pun masih berada di sekitar Jalan Menteng Raya. Mereka perlahan bergerak ke lokasi aksi. Sementara itu, lalu lintas di sekitar Jalan Menteng Raya tersendat akibat massa yang memenuhi badan jalan.
Sebelumnya, ketua Bidang Hikmah, Politik dan Kebijakan Publik DPD IMM DKI Jakarta, Rahmat Syarif mengkonfirmasi aksi tersebut. Rahmat menuturkan aksi unjuk rasa tersebut akan diikuti oleh ribuan kader IMM yang berasal dari berbagai cabang yang ada di DKI Jakarta.
"Iya besok kita turun aksi, rencananya kumpul di PP Muhammadiyah dulu baru lanjut ke Istana Negara. Dari hasil teklap kemarin, kira-kira akan ada 1.300 kader yang berangkat," ujar Rahmat, Selasa (1/3).
Dalam aksi tersebut, massa disebut akan menyerukan sejumlah tuntutan. Di antaranya, menolak wacana penundaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 dan mengecam tindakan penembakan oleh aparat keamanan di Sulawesi Tengah.
"Tuntutan kita adalah menolak penundaan Pemilu 2024 dan mengecam represifitas aparat di Desa Wadas dan penembakan di Desa Siney yang menewaskan salah seorang aktivis tambang," pungkasnya.
(wk/amel)