Sebelumnya, Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas menilai logo tersebut tidak bisa menampilkan apa yang dimaksud dengan kearifan nasional, namun tertarik ke dalam kearifan lokal. Anwar menyebut yang namanya budaya bangsa itu bukan hanya budaya Jawa.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 15 Maret 2022 - 12:12 WIB
WowKeren - Desain logo halal yang baru kini tengah ramai diperbincangkan. Beberapa pihak mengkritik logo baru tersebut jadi lebih mengedepankan artistik dan budaya lokal tertentu ketimbang menonjolkan kata halal dalam bahasa Arab.
Bentuk logo label halal baru tersebut diketahui mengadopsi bentuk gunungan pada wayang. Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas lantas menilai logo tersebut tidak bisa menampilkan apa yang dimaksud dengan kearifan nasional, namun justru terjerumus ke dalam kearifan lokal. Pasalnya, tutur Anwar, yang namanya budaya bangsa itu bukan hanya budaya Jawa.
Kekinian, Kementerian Agama membantah logo halal baru yang diterbitkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kemenag tersebut bersifat Jawa-sentris. "Pemilihan label halal yang menggunakan media gunungan wayang dan batik lurik itu tidak benar kalau dikatakan Jawa sentris," tutur Kepala Pusat Registrasi Sertifikasi Halal pada BPJPH Kemenag, Mastuki, dalam keterangannya, Senin (14/3).
Menurut Mastuki, wayang dan batik telah menjadi warisan Indonesia yang diakui dunia. Unesco juga disebut telah mengakuinya sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya non-benda (intangible heritage of humanity).
"Wayang ditetapkan pada 2003, sedang batik ditetapkan enam tahun kemudian, yaitu pada 2009. Karenanya, baik batik maupun wayang, keduanya adalah representasi budaya Indonesia yang bersumber dari tradisi, persilangan budaya, dan hasil peradaban yang berkembang di wilayah nusantara," paparnya.
Lebih lanjut, Mastuki menjelaskan bahwa penetapan label halal yang baru ini dilakukan berdasarkan riset yang lama dan telah melibatkan sejumlah ahli. BPJPH juga disebut sudah mempertimbangkan banyak hal sebelum menetapkan logo halal yang baru.
"Distingsi ini bukan asal berbeda, tapi keberbedaan yang menjadi ciri khas dari Indonesia, sekaligus menghubungkan antara ke-Indonesiaan dan ke-Islaman," terangnya. "Keduanya sudah menyatu dalam peradaban kita beratus tahun, sehingga penggunaan elemen bentuk, elemen warna dari budaya yang berkembang di Indonesia sangat sah dan dapat dipertangungjawabkan."
Selain itu, Mastuki juga mengungkapkan bahwa gunungan wayang tak hanya digunakan di Jawa. Tradisi gunungan juga lekat dengan budaya lain seperti Wayang Bali dan Wayang Sasak.
"Wayang Golek yang berkembang di Sunda juga menggunakan gunungan," tukasnya.
(wk/Bert)