Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menilai putusan rekomendasi Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI yang memberhentikan Terawan berbahaya bagi masa depan dunia kedokteran Tanah Air.
- Bertilia Puteri
- Senin, 28 Maret 2022 - 10:17 WIB
WowKeren - Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto telah dipecat dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) secara permanen. Keputusan ini rupanya menuai pro-kontra dan sejumlah pihak menilai pemecatan Terawan kurang tepat.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menilai putusan rekomendasi Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI yang memberhentikan Terawan berbahaya bagi masa depan dunia kedokteran Tanah Air. Menurutnya, hal tersebut bisa membuat para dokter lain takut untuk mencoba berinovasi.
"Kenapa putusan ini berbahaya? Terus terang dengan adanya rekomendasi MKEK ini saya khawatir akan menjadi yurisprudensi bagi masalah serupa di masa yang akan datang sehingga menyebabkan dokter-dokter kita takut untuk mencoba dan berinovasi dengan berbagai riset-risetnya," terang Dasco dalam siaran pers pada Minggu (27/3).
Politisi Partai Gerindra tersebut menilai idealnya IDI sebagai sebuah organisasi profesi yang diberi kewenangan cukup luas oleh UU Praktik Kedokteran bisa lebih mengayomi dan membina para anggotanya. IDI juga dinilai harusnya bisa terbuka dengan berbagai inovasi dan kebaruan di bidang kesehatan, farmasi, dan kedokteran.
Oleh sebab itu, Dasco meminta kepada Kementerian Kesehatan untuk mengkaji rekomendasi yang dikeluarkan oleh MKEK IDI itu. Terutama dari aspek hukum dan peraturan perundang-undangan.
"Saya tegaskan bahwa ini bukan hanya soal Pak Terawan ya. Tetapi ini tentang masa depan dunia kedokteran kita, masa depan dunia farmasi kita agar lebih mandiri dan berdikari. Jangan sampai sebuah inovasi atau prestasi yang harusnya diapresiasi, ini malah diganjar dengan sanksi," paparnya.
Sementara itu, anggota Komisi IX DPR RI Ribka Tjiptaning Proletariyati mempertanyakan pemecatan Terawan. "Kenapa dia harus diberi sanksi bahkan dipecat seperti itu," tutur Ribka.
Menurut Ribka, Terawan tidak melakukan kesalahan fatal ataupun kesalahan yang merugikan orang banyak. Politisi PDIP tersebut menilai ada dokter lain yang melakukan malpraktik tapi bisa terlepas dari jeratan malpraktik karena ikatan profesi dokter yang begitu kuat.
"Melakukan DSA (Digital Substraction Angiography) enggak pernah ada korban, baik dari pejabat maupun sampai dengan tingkat rakyat biasa. Dilakukan dengan baik-baik," kata Ribka.
Selain itu, Ribka juga menilai bahwa kampanye Vaksin Nusantara yang dilakukan Terawan justru patut diacungi jempol. Ia yakin bahwa Indonesia mampu membuat Vaksin COVID-19 sendiri.
"Dia punya keyakinan bahwa suatu saat kita pasti bisa membuat vaksin, apalagi semakin ke sini, pernyataan Pak Jokowi semakin jelas bahwa kita harus mencintai produk dalam negeri," jelasnya.
Terawan dinilainya telah bekontribusi bagi masyarakat luas dengan ilmunya sebagai dokter. Oleh sebab itu, Ribka menyayangkan keputusan MKEK yang memberhentikan Terawan dari keanggotaan IDI secara permanen.
"Lebih baik IDI memperjuangkan nasib dokter-dokter yang belum jelas, juga mencerdaskan adik-adik kita," tukasnya.
(wk/Bert)