Pemerintah Indonesia saat ini diketahui tengah berupaya mengembangkan kendaraan listrik. Bahkan saat ini pun juga sudah bisa dijumpai beberapa pengendara kendaraan listrik, baik mobil maupun motor.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 05 April 2022 - 15:05 WIB
WowKeren - Pengembangan kendaraan listrik di Indonesia tampaknya mendapat dukungan dari sejumlah pihak, salah satunya adalah PT PLN (Persero). PT PLN menyatakan siap memasok listrik bagi produsen kendaraan listrik yang membangun pabrik di Indonesia.
Adapun listrik tersebut diketahui berasal dari energi baru terbarukan (EBT). Saat ini, PLN disebut telah memiliki pembangkit EBT dengan kapasitas terpasang mencapai sembilan gigawatt (GW), yang kapasitasnya akan meningkat hingga 29 GW pada tahun 2030 mendatang.
Terkait hal tersebut, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menerangkan bahwa daya terpasang tersebut mampu memenuhi kebutuhan listrik industri hijau. Selain itu, hal tersebut juga selaras dengan rencana pemerintah dalam mengembangkan Kawasan Industri Hijau di sejumlah wilayah di Tanah Air.
"Saat ini semua industri bergerak pada energi berbasis ramah lingkungan," papar Darmawan dalam keterangan persnya, Selasa (5/4). "Melalui Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) hijau yang dicanangkan pada 2021, PLN siap mendukung industri di Kawasan Industri Hijau melalui pembangkit EBT."
Lebih lanjut, Darmawan menerangkan pada tahun 2022 ini, PLN akan menambah kapasitas terpasang pembangkit EBT sebesar 228 MW. Adapun pembangkit ramah lingkungan tersebut terdiri dari PLTP sebesar 45 MW, PLTA dan PLTM 178 MW, serta pembangkit listrik tenaga bioenergi 5 MW.
Selain pasokan listrik, Darmawan menuturkan bahwa pihaknya juga akan mendukung pengembangan industri hijau di Indonesia, PLN nantinya bakal membuka peluang kerja sama dalam carbon trading melalui Renewable Energy Certificate (REC). Menurutnya, REC menjadi instrumen paling penting dalam menurunkan emisi.
"Kerja sama ini merupakan bukti nyata sektor industri mengambil peran luar biasa dalam transisi energi terbarukan," imbuhnya. Melalui REC, kata Darmawan, PLN nantinya akan mewujudkan kerja sama pemenuhan tenaga listrik dari pembangkit berbasis EBT.
Darmawan lantas mengungkapkan bahwa kontrak pembelian REC dengan durasi kerja sama 1-5 tahun juga bakal memberi dampak positif bagi industri. "Pelanggan memperoleh opsi pengadaan untuk pemenuhan target 100 persen penggunaan EBT yang transparan dan diakui secara internasional dan tanpa mengeluarkan biaya investasi untuk pembangunan infrastruktur," jelas Darmawan.
Kemudian, Darmawan memaparkan industri juga bisa membuktikan eksistensinya dalam berkontribusi mengurangi emisi karbon dengan menggunakan energi yang berasal dari pembangkit EBT di Indonesia. Untuk kontrak pembelian REC, juga akan memberikan dampak bagi pemerintah yang tengah mendorong transisi energi menuju karbon netral 2060.
Dengan begitu, diharapkan masifnya kontrak pembelian REC dapat mendorong pertumbuhan pasar nasional energi terbarukan sehingga dapat mempercepat pencapaian target bauran energi. Darmawan menegaskan pihaknya pun terbuka bagi perusahaan-perusahaan lain yang ingin berkontribusi dalam penggunaan energi hijau dengan pemanfaatan REC.
(wk/tiar)