Nadiem Sebut Bahasa Indonesia Layak Jadi Bahasa Resmi ASEAN, Ini Perbedaannya Dengan Bahasa Melayu
Unsplash/Mufid Majnun
Nasional

Sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yakoob sempat mengusulkan agar Bahasa Melayu dijadikan sebagai bahasa resmi ASEAN. Ismail mengusulkan hal tersebut lantaran bahasa Melayu tidak hanya digunakan di Malaysia saja.

WowKeren - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim tak setuju jika bahasa Melayu dijadikan bahasa resmi ASEAN. Diketahui, Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yakoob sempat mengusulkan agar Bahasa Melayu dijadikan sebagai bahasa resmi ASEAN.

Ismail mengusulkan hal tersebut lantaran bahasa Melayu tidak hanya digunakan di Malaysia saja. "Indonesia, Brunei, Singapura, Thailand selatan, Filipina selatan, serta sebagian dari Kamboja turut menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Jadi tidak ada alasan kami tidak bisa menjadikan bahasa Melayu sebagai salah satu bahasa resmi ASEAN," ujarnya.

Adapun Nadiem menolak gagasan tersebut karena menilai Bahasa Indonesia lebih terdepan dibandingkan bahasa lainnya, termasuk Melayu. Menurutnya, Bahasa Indonesia lebih layak untuk dikedepankan dengan mempertimbangkan keunggulan historis, hukum, dan linguistik.

Lantas, apa saja perbedaan bahasa Indonesia dan Melayu? Lalu apa saja keunggulan bahasa Indonesia?

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek Prof. Endang Aminudin Aziz, M.A., Ph.D, mengungkapkan bahwa berdasarkan sejarah, bahasa Indonesia memang berasal dari bahasa Melayu. Namun bahasa baru tersebut disepakati bernama bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu. Oleh sebab itu, kedua bahasa tersebut tidak bisa disamakan.

"Dan ini harus jadi sikap bangsa Indonesia karena bahasa Indonesia ini bagi kita adalah bahasa perjuangan. Ketika kita deklarasikan dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, kita menamainya bahasa Indonesia," jelas Aminudin.

Sementara itu, bahasa Melayu sendiri berstatus sebagai bahasa daerah sedangkan bahasa Indonesia berstatus sebagai bahasa nasional. Karena itu, ada upaya untuk tidak mencampur aduk penggunaan bahasa Indonesia dengan Melayu.


"Di diskusi di Kepri sebelumnya saat ada kunjungan Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP), saya minta teman- teman kabarkan ke DPR, kita tidak menggunakan istilah bahasa Melayu. Harus menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Melayu itu bahasa daerah bagi kita," jelasnya. "Setelah diskusi juga di Kepri, sepakat juga kini (penyebutan bahasa Indonesia) harus pakai (istilah) bahasa Indonesia, bukan bahasa Melayu istilahnya."

Selain itu, cara perkembangan bahasa Indonesia juga berbeda dari bahasa Melayu di Indonesia. Aminudin menjelaskan bahwa perkembangan dan pengayaan kosakata bahasa Indonesia dipengaruhi bahasa Belanda, Arab, Portugis, Inggris, China, Jepang, Prancis, Turki, Korea, hingga 718 bahasa daerah di Indonesia. Sedangkan bahasa Melayu di Indonesia turut dipengaruhi bahasa daerah lain dan juga bahasa Indonesia sendiri.

"Bahasa Indonesia kini juga mempengaruhi bahasa Melayu. Nah ini karena apa? Karena bahasa Indonesia jadi bahasa nasional, jadi dituturkan banyak orang. Mau tidak mau, bahasa Jawa, Sunda, juga menyerap istilah dari bahasa Indonesia. Bahasa Melayu pun di Kepulauan Riau banyak menyerap kosakata bahasa Indonesia," paparnya.

Jumlah penutur bahasa Indonesia juga disebut jauh lebih besar dibanding bahasa Melayu. Mengingat jumlah penduduk Indonesia sendiri mencapai 279 juta jiwa.

Ini belum termasuk sekitar 80 ribu orang asing yang kini mempelajari Bahasa Indonesia di fasilitas Badan Bahasa di lebih 40 negara. Selain itu, ada pula penutur yang mempelajari bahasa Indonesia dari masyarakat setempat.

"Contoh di Jepang, meskipun tidak kita fasilitasi langsung, orang indonesia di Jepang juga mengenalkan bahasa Indonesia kepada orang-orang Jepang. Demikian juga di Australia, seperti anak-anak SD-nya. Dari hasil diskusi teman-teman Balai Bahasa Perth, ada 40.000-an penutur," ujarnya.

Tak hanya itu, tingkat keterpahaman atau mutual intelligebility bahasa Indonesia dinilai Aminudin lebih luas dibandung bahasa Melayu. Ini berarti, orang Melayu bisa lebih memahami bahasa Indonesia dibanding orang Indonesia memahami bahasa Melayu.

"Maksudnya begini, orang Melayu yang dengar tutur bahasa Indonesia akan mengerti, tetapi belum tentu penuturan berbahasa Melayu akan dimengerti penutur bahasa Indonesia," katanya. "Yang seperti ini menunjukkan, ketercakupan dan keterpahaman bahasa Indonesia jauh lebih tinggi."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait