Aksi demo mahasiswa pada Senin (11/4) kemarin, berujung pada kekacauan, bahkan anarkis. Salah satunya terjadi di Universitas Negeri Makassar (UNM) Sulsel yang berakhir chaos.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 12 April 2022 - 12:16 WIB
WowKeren - Seperti yang diketahui, pada Senin (11/4) kemarin, para mahasiswa turun ke jalan menggelar aksi demo. Akan tetapi demo tersebut berujung pada kekacauan, hingga anarkis.
Adapun salah satu demo yang berujung pada kekacauan adalah aksi unjuk rasa di depan kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) Sulawesi Selatan pada Senin (11/4) malam. Polisi disebut menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa sekitar pukul 20.00 WITA untuk membubarkan massa.
Melihat hal tersebut, para pengunjuk rasa pun langsung lari masuk ke dalam kampus untuk menghindari tembakan gas air mata petugas. Peristiwa ini diketahui terjadi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dekat Masjid Nurul Ilmi.
Di sisi lain, polisi pun terus mengejar pengunjuk rasa dan menembakkan gas air mata ke dalam kampus. Tak tinggal diam, para pengunjuk rasa diketahui juga membalas gas air mata dengan menembakkan petasan.
Warga yang diketahui baru saja melaksanakan salat Isya dan hendak menjalankan salat Tarawih itu lantas dikagetkan dengan tembakan gas air mata dan petasan tersebut. "Sementara ceramah tadi, polisi tembakan gas air mata berkali-kali," ungkap Hardiansyah salah seorang warga yang salat di Masjid Nurul Ilmi kepada Tribunnews.com, dilihat Selasa (12/4).
"Jadi panitia umumkan kepada polisi dan mahasiswa untuk tenang, karena suasana dalam masjid sedang ibadah," lanjut Hardiansyah. Meski terdengar ada suara tembakan, tampaknya hal tersebut tak mengurangi kekhusyukan para jemaah dalam beribadah salat Tarawih hingga Witir.
Akan tetapi, Hardianyah mengungkapkan banyak jemaah di dalam masjid yang tertahan dan menangis akibat terkena gas air mata. "Jemaah juga tertekan. Banyak ibu-ibu yang ketakutan," imbuhnya.
Menurut Hardiansyah, tindakan polisi dan pengunjuk rasa itu tidak bisa dibenarkan. Ia menilai tindakan seperti seharusnya tidak terjadi, apalagi sampai masuk ke permukiman warga. Ia pun menekankan seharusnya antara pendemo dengan polisi harus bisa saling menahan.
"Kalau demonya sudah selesai, tidak usahlah dilanjut sampai malam. Karena ini masuk ke dalam pemukiman warga dan ini mengganggu kekhusyuan salat," tandas Hardiansyah. Ia lantas berharap ke depannya tidak ada lagi kejadian seperti itu.
(wk/tiar)