WNA yang Pamer Foto Bugil di Pohon Sakral Bali Diharap Ikut Hadir Dalam Ritual Pembersihan
Unsplash/Stephen Leonardi
Nasional

Pengelola Pura Babakan dan Objek Wisata Kayu Putih kini mencari hari baik untuk melakukan pembersihan pada area yang menjadi lokasi foto bule tersebut

WowKeren - Bule yang pamer pose telanjang di sebuah pohon sakral di Pura Babakan, Kabupaten Tabanan, Bali, memicu kemarahan publik. Warga negara asing (WNA) tersebut akhirnya menyerahkan diri pada Rabu (4/6) malam.

Kekinian, pengelola Pura Babakan dan Objek Wisata Kayu Putih mencari hari baik untuk melakukan pembersihan pada area yang menjadi lokasi foto bule tersebut. "Kami sedang mencari hari baik dan akan berdiskusi terkait upacara apa nanti yang akan dilakukan untuk pembersihan," tutur I Made Kurnawijaya selaku pengelola Objek Wisata Kayu Putih, Kamis (5/5).

Made mengaku masyarakat dan pengurus desa telah memberikan maaf atas aksi bule tersebut meski mereka juga merasa kecewa. Menurut Made, pihaknya tidak menuntut ganti rugi apa pun dan hanya berharap agar WNA yang bersangkutan datang langsung dalam upacara pembersihan.

"Kami tidak menuntut ganti rugi apapun, harapan kami dia datang untuk ikut upacara nanti," katanya.


Sementara itu, pelaku telah meminta maaf dan mengaku bersedia membiayai ritual pembersihan jika warga memutuskan untuk melakukan upacara itu. Hal ini disampaikan oleh anggota DPRD Tabanan, Putu Yuni Widnyadnyani yang bertemu dengan pelaku dan suaminya saat melakukan peninjauan ke lokasi kejadian pada Rabu (4/5).

"Itu yang disampaikan suaminya kepada saya saat bertemu kemarin," ungkap Putu, Kamis.

Dalam pertemuan yang tak disengaja itu, pelaku mengaku kepada Putu bahwa ia tidak mengetahui aturan saat berada di tempat yang disakralkan itu. Pengaku mengaku sempat mengira bahwa pengunjung boleh membuka pakaian layaknya di tempat melukat.

Pelaku tidak langsung mengakui perbuatannya saat berada di lokasi karena khawatir akan menimbulkan kehebohan. "Jadi baru di Polsek dia bilang ke saya bahwa dia lah pelakunya," tuturnya.

Menurut Putu, pihak desa tidak terlalu mempermasalahkan kesediaan pelaku untuk membiayai ritual pembersihan tersebut. "Peristiwa ini ditanggapi oleh pihak-pihak di sini dengan jiwa besar untuk melihat apa yang akan dibenahi ke depannya," tukasnya.

(wk/Bert)


You can share this post!

Related Posts