3 Bulan Berlalu Masalah Harga Kedelai Tinggi Tak Kunjung Teratasi, Bagaimana Nasib Perajin Tahu?
Maxpixel
Nasional

Sudah 3 bulan berlalu, masalah harga kedelai yang selangit ternyata belum menemukan solusinya. Para perajin tahu pun harus berjuang bertahan hidup di tengah harga kedelai yang naik lebih dari 100 persen.

WowKeren - Persoalan tingginya harga kedelai sudah terjadi sejak sekitar 3 bulan lalu. Tapi nyatanya sampai saat ini permasalahan tersebut tak kunjung mendapat solusi. Akibatnya para pelaku usaha yang menjadikan kedelai sebagai bahan baku utamanya pun dibuat kelimpungan.

Seperti yang dirasakan sejumlah perajin tahu di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Mereka mengeluhkan tingginya harga kedelai yang melonjak hingga lebih dari 100 persen sejak tiga bulan lalu.

"Kita hingga kini hanya bisa bertahan hidup saja sejak tiga bulan harga kedelai melonjak dari Rp 300 ribu menjadi Rp 620 ribu per 50 kilogram," kata Madsoleh (55), perajin tahu di Kampung Muara Kebon Kelapa.

Perajin tahu disebut sangat terpukul dengan kenaikan harga kedelai. Bahkan kondisi ini membuat beberapa perajin gulung tikar.

Dia berharap pemerintah segera menyalurkan subsidi sehingga dapat mengurangi beban biaya produksi. "Kami minta kedelai disubsidi dan kembali ke harga normal Rp 300 ribu," beber Madsoleh.



Perajin tahu lain, Sudrajat (55) juga mengeluhkan kesulitan serupa. Saat ini, ia menyiasati produksi tahu dengan memperkecil ukuran agar usahanya bertahan. "Sejak kenaikan kedelai itu biaya produksi cukup tinggi dan berdampak terhadap keuntungan, " katanya.

Padahal pada Februari lalu, Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi mengatakan pihaknya akan segera mengumumkan harga wajar tahu dan tempe di pasaran. Dia mengklaim pihaknya sudah menjembatani antara importir dan perajin untuk mendiskusikan terkait kenaikan harga kedelai.

Mendag Lutfi di kesempatan yang sama juga turut mengungkap biang kerok kenaikan harga kedelai. Ia menyatakan bahwa penyebabnya adalah pasokan kacang kedelai Indonesia yang bergantung pada pasar internasional.

Pada 2021, impor kedelai mencapai 2,5 juta ton. Sedangkan produksi kedelai di dalam negeri tidak melebihi 300 ribu ton pada tahun lalu.

"Kita ini bergantung pada pasar internasional. Sekarang ini sedang mengalami kejadian-kejadian yang pertama harga tinggi sekali disebabkan urea sudah naik 223 persen di pasar internasional dalam 15 bulan terakhir," ujar Lutfi, pungkas Mendag Lutfi kala itu.

(wk/amel)


You can share this post!


Related Posts