Sempat Picu Kepanikan Masyarakat, BMKG Pastikan Suhu Panas di Indonesia Tak Seperti di India
Unsplash/Ibrahim Rifath
Nasional
Waspada Suhu Panas

BMKG memberi penjelasan terkait dengan suhu panas di Indonesia yang memicu kepanikan masyarakat lantaran dikaitkan dengan gelombang panas di India. Gelombang panas di India sendiri telah mencapai rekor.

WowKeren - Suhu Panas belakangan ini tampaknya meliputi sejumlah negara di dunia, termasuk di antaranya India. Bahkan akibat suhu panas di India itu mencapai rekor hingga menyebabkan burung-burung berjatuhan akibat dehidrasi.

Atas hal tersebut, sempat memicu kepanikan masyarakat di Indonesia, pasalnya di Tanah Air juga mengalami suhu panas. Menanggapi hal ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengamati suhu udara panas yang dirasakan di beberapa tempat di Sumatera dan Indonesia bagian selatan pada awal Mei 2022.

Berdasarkan dari catatan data BMKG, pada periode tersebut setidaknya 2 hingga 8 stasiun cuaca BMKG melaporkan suhu udara maximum >35 derajat C. Di antaranya adalah stasiun cuaca Kalimaru (Kaltim) dan Ciputat (Banten), bahkan mencatat suhu maksimum sekitar 36 derajat C berurutan beberapa hari.

Kendati demikian, BMKG lantas memastikan bahwa kejadian suhu panas di Indonesia itu tidak dikategorikan sebagai gelombang panas seperti di India, lantaran tidak memenuhi definisi kejadian ekstrim meteorologis oleh Badan Meteorologi Dunia (WMO), yakni anomali lebih panas 5 derajat C dari rerata klimatologis suhu maksimum di suatu lokasi dan setidaknya sudah berlangsung dalam lima hari.

"Gelombang panas pada umumnya juga terjadi dalam cakupan yang luas, yang diakibatkan oleh sirkulasi cuaca tertentu, sehingga menimbulkan penumpukan massa udara panas," ujar Plt Deputi Klimatologi BMKG Urip Haryoko dalam keterangan pers, Selasa (17/5).



Lebih lanjut, Haryoko menerangkan bahwa meningkatnya suhu pada bulan Mei itu sebenarnya adalah hal wajar. Sementara dalam analisis klimatologi, sebagian besar lokasi-lokasi pengamatan suhu udara di Indonesia menunjukkan dua puncak suhu maksimum yakni pada bulan April, Mei, dan September.

"Hal itu memang terdapat pengaruh dari posisi gerak semu matahari dan dominasi cuaca cerah awal atau puncak musim kemarau," jelas Haryoko.

Sementara suhu maksimum sekitar 36 derajat C pun, kata Haryoko, bukan merupakan suhu tertinggi yang pernah terjadi di Indonesia. Pasalnya, rekor suhu tertinggi yang pernah terjadi di Indonesia adalah 40 derajat C di Larantuka (NTT) pada 5 September 2012 lalu.

Akan tetapi, anomali suhu yang lebih panas dibandingkan beberapa wilayah lainnya di Indonesia itu mengindikasikan faktor lain yang mengamplifikasi periode puncak suhu udara tersebut. "Kondisi udara yang terasa panas dan tidak nyaman dapat disebabkan oleh suhu udara yang tinggi," imbuhnya.

"Suhu udara tinggi terjadi pada udara yang kelembapannya tinggi, maka akan terkesan 'sumuk', sedangkan bila udaranya kering (kelembapan rendah), maka akan terasa 'terik' dan membakar," beber Haryoko.

(wk/tiar)


You can share this post!


Related Posts