Eropa Dilanda Krisis Energi, Pengusaha Batu Bara Indonesia Lihat Ada Celah Menguntungkan
Pixabay
Nasional

Sejumlah negara di Eropa mulai beralih ke Batu Bara di tengah krisis energi yang melanda. Indonesia pun tampaknya punya potensi besar menambah ekspor batu bara ke Eropa.

WowKeren - Eropa kini dikabarkan tengah mengalami krisis energi. Hal itu diperparah dengan larangan impor energi dari Rusia. Hal itu pun tampaknya bisa jadi peluang keuntungan bagi Indonesia.

Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) melihat peluang positif dari fenomena negara-negara Eropa berburu batu bara sebagai alternatif sumber energi usai Rusia mengentikan ekspor. Pasalnya, Indonesia merupakan salah satu dari 5 negara pengekspor batu bara.

"Mereka (Eropa) mau menggunakan batu bara untuk sementara. Intinya positif karena di dunia eksportir batu bara selain Rusia cuma empat negara, Afrika Selatan, Colombia, Indonesia dan Australia," ujar Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia pada Rabu (22/6), melansir CNNIndonesia.com.

Sebagai pengekspor batu bara terbesar di dunia, Hendra Sinadia menyebut Indonesia dapat meraup untung dari kekurangan pasokan di Eropa. Bahkan, sejak Maret 2022, Hendra mengatakan beberapa perusahaan sudah mulai mengirim lebih banyak batu bara ke Eropa. Padahal, sebelum perang Rusia-Ukraina, ekspor batu bara ke Eropa sangat minim dalam dua sampai tiga tahun terakhir.



"Dengan ini, pastinya akan meningkat, cuma berapa besar peningkatannya kami harus melihat data ekspornya dulu, tapi informasi yang ini sudah sedang berjalan," terangnya.

Sementara itu, menurut data Badan Pusat Statistika (BPS), ekspor batu bara Indonesia selama 2022 mencapai puncaknya pada Maret 2022, dengan jumlah ekspor 61 miliar kilogram (kg). Angka itu meningkat hampir 40 persen dibanding Februari 2022, yakni 44,63 miliar kg.

Namun, pada April angka tersebut turun menjadi 55,74 miliar kg. Bahkan, untuk Mei 2022, volume ekspor batu bara semakin turun hingga berada di kisaran 33 miliar kg. Dengan munculnya permintaan dari Eropa di kala krisis energi, Hendra memperkirakan permintaan dapat kembali meningkat.

"Kalau di 2021, total coal seaborne export itu sekitar 993 juta ton, perkiraan (proyeksi) di 2022 di kisaran 1.088 miliar ton," pungkasnya.

Sebelumnya, beberapa negara di Eropa diketahui mulai kembali ke batu bara setelah Rusia membatasi ekspor minyak. Jerman dan Austria, dua negara di kawasan Eropa juga memutuskan kembali menggunakan batu bara di tengah minimnya pasokan gas.

(wk/amel)


You can share this post!


Related Posts