Sri Mulyani Singgung Konflik Rusia-Ukraina dan Sebut Dunia Tak Butuh Perang di Hadapan Delegasi G20
Instagram/smindrawati
Nasional

Hal ini disampaikan Sri Mulyani di pertemuan Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) G20 di Bali pada Jumat (15/7). Agenda tersebut turut dihadiri oleh Wakil Menteri Keuangan Rusia Timur Maksimov.

WowKeren - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa negara-negara di dunia perlu bekerjasama untuk menghadapi dampak pandemi COVID-19 yang diperparah oleh konflik Rusia-Ukraina. Hal ini disampaikan Sri Mulyani di pertemuan Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) G20 di Bali pada Jumat (15/7).

Menurut Sri Mulyani, konflik Rusia-Ukraina membuat kondisi global semakin parah dan harga komoditas melonjak. Oleh sebab itu, Indonesia selaku pemegang Presidensi G20 disebut seiap berkomunikasi dengan berbagai pihak untuk bisa bangkit bersama.

"Kami akan terus membangun jembatan dan kami tidak membangun tembok, karena kami sangat percaya bahwa dunia semakin membutuhkan lebih banyak jembatan dan koneksi, bukan perang dan perang," ujar Sri Mulyani.

Sebagai informasi, delegasi Rusia turut hadir secara fisik dalam agenda FMCBG di Pulau Dewata itu. Rusia diwakili oleh Wakil Menteri Keuangan Rusia Timur Maksimov.

Lebih lanjut, Sri Mulyani mengatakan bahwa negara G20 harus memperkuat semangat multilateralisme. Mereka juga perlu membangun jaring pengaman untuk kerjasama di masa depan dan memperkuat komitmen demi kemakmuran global bersama.


"Kami sangat menyadari bahwa kami bisa bekerja sama lebih dari yang kami mampu. Konsekuensi kemanusiaan bagi dunia dan terutama bagi banyak negara berpenghasilan rendah akan menjadi bencana besar," terangnya.

Sekitar 60 persen negara berpenghasilan rendah dinilai Sri Mulyani telah berada dalam atau dekat dengan kesulitan utang. Selusin negara berkembang juga dinilainya kemungkinan tidak akan bisa memenuhi pembayaran utang tahun depan.

"Jadi ini bukan hanya satu atau dua kasus luar biasa. Ini menjadi meluas," tuturnya.

Adapun tiga ancaman global dinilai menciptakan dampak nyata terhadap utang dan tidak hanya menyasar negara-negara berpenghasilan rendah, namun juga negara-negara berpenghasilan menengah dan bahkan ekonomi maju. Ketiga ancaman global yang dimaksud yakni perang, lonjakan/harga komoditas, serta peningkatan inflasi global.

Sri Mulyani menjelaskan bahwa sebelum pandemi dan saat pandemi, ruang fiskal telah digunakan berbagai negara yang berimplikasi pada peningkatan posisi utang. Ketiga ancaman tersebut akan membuat situasi menjadi sangat kompleks untuk dikelola.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait