Pada Sabtu (16/7) hari ini, Gubernur BI membuka FMCBG G20 hari kedua yang berlangsung di Nusa Dua, Bali. Gubernur BI pun membahas sejumlah isu terkait perekonomian dunia.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Sabtu, 16 Juli 2022 - 13:54 WIB
WowKeren - Pada hari kedua, tepatnya Sabtu (16/7) hari ini, Finance Minister and Central Bank Governos (FMCBG) negara anggota G20 diketahui akan digelar di Nusa Dua, Bali. Pada pertemuan kali ini, akan dibuka oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.
Perry kemudian menyampaikan sejumlah isu yang akan dibahas dalam pertemuan hari kedua itu dalam pidato pembukaannya. Adapun isu yang nantinya akan dibahas di antaranya adalah mengenai kenaikan harga komoditas yang menyebabkan inflasi di banyak negara, serta sejumlah isu seperti kesiapan dan pencegahan pandemi selanjutnya.
Selain itu, Perry menuturkan juga akan membahas lima topik utama dalam pertemuan tersebut. Pertama adalah berbagai strategi untuk keluar menuju stabilitas keuangan pascapandemi COVID-19 beserta memperkuat ketahanan lembaga keuangan non bank.
Kemudian membahas risiko finansial akibat perubahan iklim, lalu aset kripto, inklusi keuangan dan digitalisasi, serta terakhir adalah mengenai data gaps initiatives. "Penting untuk fokus terhadap aoa yang ingin kita capai pada tahun ini, hal ini akan memberikan pesan positif kepada komunitas global terkait peran anggota G20 dalam pemulihan global," ujar Perry di Nusa Dua, Bali, Sabtu (16/7).
Mengenai pembahasan aset kripto, Perry mengatakan akan diawali dengan paparan informasi terbaru dari Financial Stability Board (FSB). Dalam laporan ini, disebutkan menggarisbawahi soal potensi ancaman kripto terhadap stabilitas keuangan global.
Menurut Perry, hal tersebut lantaran skalanya dinilai sudah sangat besar, sehingga kerentanan muncul sejak dari strukturalnya, dan semakin meningkatnya keterkaitan dengan sistem keuangan tradisional. Ia menambahkan bahwa FSB terus mempromosikan implementasi efektif dari rekomendasi tingkat tinggi untuk regulasi dan pengawasan.
Di samping itu, kata Perry, FSB juga memperkenalkan pengawasan pengaturan "stablecoin global". Selain itu, FSB diketahui juga telah mengidentifikasi implikasi peraturan dan kebijakan utama dari pengembangan pasar aset kripto.
Selanjutnya, Perry menerangkan bahwa perkembangan terkini di pasar aset kripto juga mendesak FSB untuk terus membangun kesadaran publik terkait risiko aset kripto. Akan tetapi, hal ini menurutnya perlu dilakukan oleh semua pihak.
Dengan begitu, maka para delegasi akan diminta untuk memberikan pandangan tentang masalah-masalah mendesak dari perkembangan pasar aset kripto belakangan ini. Di sisi lain, pembahasan seperti itu juga diharapkan bisa membangun strategi pendekatan regulasi dan pengawasan yang konsisten terhadap aktivitas aset kripto. Pasalnya, hal ini dinilai penting sebagai bagian dari menjaga stabilitas keuangan global.
(wk/tiar)