Keterlibatan Diplo di album BTS Arirang menimbulkan diskusi tentang standar ganda di industri.
- Selasa, 10 Maret 2026 - 06:33 WIB
WowKeren - Peluncuran daftar lagu untuk album terbaru BTS, Arirang, telah menggemparkan dunia musik. Meskipun penggemar merayakan comeback grup ini, keterlibatan kolaborator Barat yang kontroversial, Diplo, memicu kembali pertikaian di kalangan fans dan diskusi tentang standar ganda dalam industri musik.
Diplo, produser asal Amerika yang dikenal berkolaborasi dengan banyak legenda seperti Madonna dan Britney Spears, secara resmi terlibat dalam lima lagu di album terbaru ini. Dia membagikan foto bersama anggota Jungkook dan RM melalui X (sebelumnya Twitter), dengan caption yang meminta penggemar untuk "bersikap baik".
Sementara banyak penggemar merasa antusias dengan kolaborasi bergengsi ini, suasana segera berubah ketika perhatian beralih kepada BLACKPINK, khususnya kepada member Jennie. Ketegangan ini muncul dari sejarah Diplo yang penuh dengan masalah hukum serius, termasuk gugatan yang melibatkan distribusi konten intim tanpa izin yang dikenal sebagai revenge porn di tahun 2024.
Ketika Diplo diumumkan sebagai salah satu kontributor di album solo Jennie, Ruby, reaksi negatif pun langsung membanjiri media sosial. Jennie menjadi sasaran kritik tajam, di mana beberapa pihak menggunakannya sebagai kesempatan untuk melancarkan serangan seksis terhadapnya.
Kini, saat BTS mengumumkan kolaborasi yang jauh lebih besar dengan Diplo, netizen mulai menunjukkan apa yang mereka anggap sebagai standar ganda yang mencolok. "Ketika Jennie bekerja sama dengannya, dia dihujat dan dijuluki dengan berbagai nama. Namun sekarang, dengan keterlibatan Diplo di lima lagu BTS, energi yang muncul justru 'fokus pada musik'? Ketidakadilan ini sangat jelas," tulis salah satu postingan viral di X.
Perdebatan ini juga telah menciptakan perpecahan di dalam komunitas ARMY. Beberapa penggemar lebih memilih untuk memprioritaskan kualitas musik album, sementara sebagian besar lainnya menyatakan kekecewaan dan ketidaksukaan mereka terhadap keterlibatan Diplo, menganggap perilaku masa lalu produser tersebut tidak sejalan dengan pesan tanggung jawab sosial grup.
Analisis industri menunjukkan bahwa kontroversi ini menyoroti isu yang kerap muncul dalam K-pop: bagaimana idol perempuan sering kali dihadapkan pada standar moral yang jauh lebih ketat dibandingkan rekan-rekan laki-laki mereka meskipun terlibat dalam asosiasi profesional yang sama.
Saat Arirang bersiap untuk diluncurkan secara global, meskipun kualitas musiknya mungkin sangat tinggi, bayang-bayang kredit produksi masih terus memicu debat hangat mengenai akuntabilitas dan bias gender di era digital ini.
(wk/timw)