BTS menghadapi kritik karena album terbaru mereka dinilai tidak inovatif dan stagnan.
- Kamis, 19 Maret 2026 - 04:37 WIB
WowKeren - BTS baru-baru ini menerima kritik tajam dari para pengamat industri musik karena album terbaru mereka yang dinilai tidak kreatif dan stagnan. Sebuah artikel dari situs berita Korea, Dalian, mencuatkan isu ini dengan menyoroti bahwa sementara banyak artis lain berinovasi, BTS justru tampak mengulangi formula yang sama dalam karya mereka.
Dalam konteks ini, album K-Pop modern telah menjadi barang koleksi yang interaktif, di mana penggemar tidak hanya mengharapkan musik berkualitas, tetapi juga kreativitas, layanan penggemar, dan kemasan yang menarik. Pada 17 Maret 2026, BTS membuka pre-order untuk album penuh kelima mereka yang berjudul ARIRANG. Namun, begitu rincian album diumumkan, kekecewaan mulai menyebar di komunitas online.
Versi photobook standar album ini dijual dengan harga ₩21,900 KRW (sekitar $14.70 USD) dan memiliki desain minimalis berwarna putih. Album ini mencakup komponen umum seperti photobook, CD, foto film, kertas lirik, dan tempat photocard. Meskipun terlihat bersih dan rapi, banyak penggemar mengkritik paket tersebut karena dinilai terlalu mengikuti "formula dasar" yang sudah ada sebelumnya.
Beberapa komentar dari penggemar mencerminkan kekecewaan ini, seperti “Ini tidak menghormati penggemar yang sudah menunggu lama,” “Rasanya kurang usaha dibandingkan album terbaru lainnya,” dan “Tidak ada konsep nyata di sini.” Versi lain, termasuk edisi Living Legend, dilaporkan menawarkan sedikit variasi, yang semakin memicu ketidakpuasan.
Kritikan serupa juga muncul pada rilis album sebelumnya, seperti Proof dan Butter. Akibatnya, para pengamat industri berpendapat bahwa reaksi negatif saat ini mencerminkan kelelahan yang terakumulasi daripada sekadar reaksi sesaat. Perbandingan dengan grup veteran lain semakin memperkuat diskusi ini. Misalnya, EXO baru-baru ini merilis album kedelapan mereka, REVERXE, yang disertai dengan album pintar bergaya Tamagotchi yang bahkan menyertakan cerita pendek untuk memperluas dunia fiksi mereka, menambahkan lapisan interaktivitas dan kedalaman naratif.
Sementara itu, album mini terbaru BLACKPINK berjudul DEADLINE pun mempertahankan komposisi yang relatif sederhana, berfokus pada foto, poster, dan photocards. Hal ini menyebabkan beberapa pihak berpendapat bahwa grup-grup papan atas K-Pop sengaja menjauhkan diri dari tren album yang berat pada merchandise. Namun, penggemar kini tidak lagi melihat kesederhanaan sebagai suatu hal yang canggih. Sebaliknya, semakin banyak yang beranggapan bahwa kemasan minimalis diartikan sebagai ketidakpedulian, di mana kritiknya adalah “mereka hanya memberikan yang paling dasar karena tetap akan laku.”
Konsumen K-Pop masa kini tidak lagi bersifat pasif. Album telah menjadi medan perang untuk kreativitas, branding, dan keterlibatan penggemar. Seiring dengan meningkatnya ekspektasi, mengulangi formula yang sama berisiko memperdalam kelelahan dan ketidakpuasan di kalangan penggemar.
(wk/timw)