Film Ghost in the Cell: Kritik Sosial dalam Balutan Horor yang Menggugah
Instagram/Abimana Aryasatya/Instagram
Selebriti

Ghost in the Cell, film terbaru Joko Anwar, hadirkan kritik sosial melalui horor yang kuat.

WowKeren - Film terbaru karya Joko Anwar berjudul Ghost in the Cell resmi tayang pada April 2026, menawarkan pengalaman menegangkan dengan latar belakang lembaga pemasyarakatan. Mengisahkan tentang entitas jahat yang mengincar orang-orang dengan aura negatif, film ini tidak hanya menyuguhkan horor tetapi juga kritik sosial yang mendalam terhadap sistem peradilan di Indonesia.

Ghost in the Cell menjelaskan bagaimana entitas jahat tersebut memangsa individu yang dikelilingi oleh kemarahan dan aura negatif. Pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: 'hantu pun bisa marah melihat kejahatan manusia'. Film ini memperingatkan penonton untuk tidak menjadi pribadi yang jahat, karena energi negatif dapat mengundang keburukan bagi diri sendiri.

Dalam karyanya kali ini, Joko Anwar berani mengeksplorasi sisi kelam dari lembaga pemasyarakatan yang sering kali menjadi sorotan publik. Lapas Labuan Angsana, yang menjadi latar utama film ini, digambarkan sebagai dunia tertutup di mana penyiksaan terjadi dengan dalih keadilan. Dalam konteks ini, film ini menunjukkan bahwa tidak semua narapidana adalah jahat, melainkan menyiratkan bahwa para sipir sering kali bertindak jauh lebih kejam dari mereka.

Film ini juga mengangkat isu-isu nyata, seperti sosok aktivis yang di masa tuanya berubah menjadi koruptor. Hierarki kekuasaan di dalam penjara ditampilkan dengan jelas, di mana sipir korup bersekutu dengan pemimpin narapidana untuk menjaga citra bersih sekaligus mempertahankan kontrol. Joko Anwar berhasil menggabungkan elemen horor dengan kritik sosial yang tajam, sehingga penonton tidak hanya terhibur tetapi juga diajak untuk berpikir.


Dari segi visual, film ini menyajikan kengerian gore yang sangat eksplisit. Namun, Joko Anwar tidak hanya mengandalkan darah dan kekerasan, tetapi juga menyentuh aspek psikologis yang dapat mengguncang penonton, terutama bagi mereka yang mengidap trypophobia atau fobia terhadap objek berlubang banyak. Lubang-lubang yang menakutkan dalam film ini diasosiasikan dengan pembusukan dan parasit, melambangkan kejahatan yang menggerogoti moralitas karakter.

Ghost in the Cell juga memperkenalkan jajaran aktor berbakat seperti Abimana Aryasatya, Rio Dewanto, Lukman Sardi, Bront Palarae, Tora Sudiro, Morgan Oey, Endy Arfian, dan Kiki Narendra. Penampilan Aming menjadi sorotan utama, karena ia berperan sebagai psikopat dengan karakter yang dingin dan mengancam, berbeda dari peran-peran humoris yang biasa ia bawakan.

Meskipun atmosfer film ini gelap, Joko Anwar berhasil memberikan jeda dengan menyisipkan humor dalam bentuk sindiran dialog tentang isu-isu sosial di Indonesia. Misalnya, terdapat dialog yang menunjukkan betapa absurdnya situasi di negeri ini, seperti 'Preman masuknya nggak di penjara, masuknya ormas,' dan 'Tapi kan lu tinggal di Indonesia, bukan Norwegia.' Elemen humor ini menjadi cara yang efektif untuk mencegah penonton merasa kelelahan mental akibat visual penyiksaan yang intens.

Walaupun ada beberapa kelemahan dalam film ini, seperti dialog yang repetitif dan kedalaman bahasa yang kurang di beberapa bagian, pesan utama film ini tetap tersampaikan dengan kuat. Ghost in the Cell mengajak penonton untuk merenungkan bahwa setan paling menakutkan bukanlah makhluk halus, melainkan sistem yang korup dan hilangnya kendali diri manusia. Film ini terasa sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini, menciptakan tawa getir yang menggambarkan absurditas sekaligus tragedi yang dihadapi masyarakat.

(wk/timw)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait