Rektor Unud Dorong Beasiswa Jadi Investasi Jangka Panjang untuk Kualitas SDM
Auto Generated/AI Generated
Selebriti

Rektor Universitas Udayana, I Ketut Sudarsana, mendorong beasiswa pendidikan untuk investasi jangka panjang.

WowKeren - DENPASAR – Rektor Universitas Udayana (Unud), Prof. I Ketut Sudarsana, mengusulkan agar program beasiswa pendidikan, khususnya program Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) di Bali, tidak hanya menjadi program jangka pendek yang terikat pada siklus politik lima tahunan. Ia menekankan pentingnya pendanaan berkelanjutan untuk memastikan keberlangsungan program ini demi peningkatan kualitas sumber daya manusia di Bali.

Dalam diskusi bersama media di Kampus Universitas Udayana, Sudarsana menyatakan, "Program ini sangat baik. Harapan kami tidak berhenti dalam satu periode pemerintahan, tetapi terus berlanjut karena manfaatnya sangat besar bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Bali." Ia menekankan bahwa investasi dalam pendidikan adalah fondasi utama untuk meningkatkan kualitas SDM, dan sangat penting agar program beasiswa ini dapat dirasakan manfaatnya oleh generasi mendatang.

Sudarsana juga mengusulkan agar program SKSS memiliki skema pendanaan yang lebih berkelanjutan, mengacu pada konsep dana abadi pendidikan yang diterapkan melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dengan demikian, akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi tidak akan terganggu oleh perubahan kebijakan pemerintah daerah.

"Pembangunan daerah tidak hanya bisa diukur dari infrastruktur yang dibangun. Yang jauh lebih penting adalah memastikan semakin banyak generasi muda memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, sehingga dapat meningkatkan daya saing daerah di masa depan," tambahnya.


Universitas Udayana mendapatkan alokasi sebanyak 250 kuota mahasiswa penerima Program SKSS untuk tahun akademik 2026/2027. Meski demikian, Sudarsana menegaskan bahwa seluruh calon penerima tetap harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Bali. "Tahun ini kuota yang diberikan kepada Universitas Udayana sebanyak 250 orang. Semoga bisa kami penuhi. Namun kalau kriterianya tidak memenuhi, tentu tidak bisa dipaksakan," jelasnya.

Pengalaman tahun sebelumnya menunjukkan bahwa pemenuhan kuota bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan program. Dari sekitar 200 kuota yang tersedia pada tahun 2025, hanya 99 mahasiswa yang dinyatakan lolos setelah melalui proses verifikasi administrasi dan validasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Proses seleksi dilakukan secara bertahap, mulai dari pemeriksaan kondisi ekonomi keluarga, dokumen administrasi, hingga verifikasi oleh Unit Beasiswa Universitas Udayana sebelum keputusan akhir ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Bali. Sudarsana juga meluruskan anggapan bahwa Program SKSS hanya dapat dimanfaatkan untuk program studi tertentu. Ia menjelaskan bahwa seluruh program sarjana di Universitas Udayana, termasuk Program Studi Kedokteran, terbuka bagi mahasiswa penerima beasiswa selama mereka memenuhi semua persyaratan yang berlaku.

"Keberhasilan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas manusianya. Karena itu, saya berharap Program SKSS dapat terus diperkuat sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia," pungkas Sudarsana.

Pemerintah Provinsi Bali secara keseluruhan menyiapkan 2.500 kuota Program Satu Keluarga Satu Sarjana pada tahun akademik 2026/2027 dengan alokasi anggaran sekitar Rp41 miliar. Anggaran ini akan digunakan untuk membiayai pendidikan serta memberikan bantuan biaya hidup kepada mahasiswa penerima beasiswa.

(wk/timw)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!