Keenam Mae, istri komedian Temon, berbagi kenangan terakhir sebelum suaminya meninggal.
- Senin, 13 Juli 2026 - 11:32 WIB
WowKeren - Keenam Mae, istri dari komedian Temon, membagikan cerita mendalam tentang momen-momen terakhir yang mereka lalui sebelum Temon menghembuskan napas terakhir pada Minggu, 12 Juli 2026, akibat serangan jantung. Temon dimakamkan pada hari ini, Senin, 13 Juli 2026, di TPU Tanah Kusir.
Dalam penuturannya, Mae mengungkapkan bahwa suaminya selalu menunggu kepulangannya dari aktivitas sehari-hari. Seusai bermain bulu tangkis, mereka sempat menikmati obrolan santai sebelum beristirahat untuk tidur. "Memang kalau saya belum pulang dia biasanya belum tidur. Pas udah selesai, sudah tuh dia tidur. 'Besok ada bola nih', dia bilang gitu," jelas Mae.
Pada pagi hari sebelum kepergiannya, Temon tidak bangun pada pukul 4.00 WIB untuk menonton pertandingan sepak bola. Mae mengaku bahwa ia sengaja tidak membangunkan suaminya agar Temon bisa beristirahat sebelum mengisi acara pada pukul 10.00 WIB. Temon baru bangun sekitar pukul 6.00 WIB dan langsung mencari tahu perkembangan skor pertandingan yang telah berlangsung.
"Jam 6 dia bangun, 'Ini baru 1-1 nih,' dia bilang gitu. Saya bilang, 'Sudah habis kali, orang ini sudah jam 6, mulainya jam 4,'" ungkap Mae. Setelah itu, Mae menyiapkan televisi untuk suaminya yang saat itu didampingi oleh anak mereka sebelum ia bergegas membuka warung dagang di depan rumah.
Di tengah aktivitas tersebut, Temon yang belum makan apa pun mendadak mengeluh rasa nyeri di bagian dada setelah meminum sedikit teh hangat. "Belum, baru minum teh hangat doang. Minta roti juga belum sempat saya bikinin. Pas dia keluar, sudah langsung ngeluh sakit di dadanya. Minum teh sedikit, saya tanya, 'Sudah mendingan enggak? Kita ke rumah sakit?'" Maes mengingat kembali saat-saat tersebut dengan penuh emosi.
Dalam kondisi panik, Temon masih menunjukkan kekuatan fisiknya dengan berjalan sendiri menuju kendaraan yang akan membawanya ke rumah sakit, meskipun ia memegangi istrinya. "Almarhum jalan sendiri, cuma pegangan sama saya. Masuk ke mobil pun enggak ada yang sulit, biasa aja. Ngomong pun biasa, cuma ya memang nahan sakit di dada sama di kepala. Saya pijitin, saya bawain minyak angin," cerita Mae.
Dia mengenang bahwa percakapan mereka saat itu menjadi momen terakhir yang akan selalu diingatnya. Temon masih sempat mengingatkan Mae untuk mengabarkan pembatalan janji temu kepada salah satu rekannya. "Enggak ada ngeluh gimana-gimana, cuma kasih tahu suruh hubungin ini dan itu, ada satu orang yang dia sudah ada janji. Saya bilang, 'Enggak usah mikirin kayak gitu, fokus Abangnya sembuh aja, acara masih lama,'" kenangnya.
Kepergian Temon yang mendadak meninggalkan duka yang mendalam. Mae mengenang sosok suaminya sebagai kepala keluarga yang luar biasa dan selalu berhasil menghadirkan tawa di dalam rumah. "Buat saya sama anak saya, mungkin orang tahunya Mas Temon itu gimana, tapi kalau buat saya dia selalu bisa bikin saya ketawa. Sekesel apa pun saya, dengan omongan dia sedikit pun pasti udah bikin saya ketawa," ungkap Mae.
Mae juga menekankan bahwa Temon adalah suami yang hebat dan selalu ada untuk keluarganya. "Dia suami yang hebat. Walaupun di mata orang lain pendapatnya banyak, tapi buat saya dia selalu ada. Buat dia, sebuah kebahagiaan kalau melihat saya bisa ketawa. Sama anaknya juga dia ngajarin komedi. Mudah-mudahan dia tenang," tutup Mae dengan penuh haru.
(wk/timw)